Semoga Sekalian Hanyutkan Konflik Berdarah di Adonara

bencana flotim2 1

Konflik Berdarah

Keganasan badai siklon tropis seroja dengan dampak yang sangat mencekam, ditambah kunjungan Presiden Joko Widodo dan serunya berbagai pemberitaan, membuat Adonara bertambah mencuat. Namun sejauh ini, Adonara sebenarnya memang sering hadir di ruang publik publikasi. Temanya hampir pasti sama, yakni konflik berdarah yang melibatkan sesamanya di Adonara. Pemicunya pun nyaris tak pernah bergeser, selalu terkait sengketa tanah!

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Bisa disebutkan beberapa contoh. Di antaranya, konflik perebutan tanah ulayat antara warga Desa Lewonara dan Desa Lewobunga di Kecamaatan Adonara Timur, awal Oktober 2012. Tidak ada korban jiwa dalam pertikaian itu, namun sekolah di sekitarnya terpaksa diliburkan karena situasinya begitu mencekam. Situasi itu hadir setelah massa dari Desa Lewonara menyerbu, lalu membakar sejumlah rumah dan lumbung pangan milik warga Desa Lewobunga.

Belum genap setahun berselang, konflik berdarah terjadi lagi di Adonara. Pertikaian itu pecah awal Juli 2013, antara warga Desa Redon Tena versus warga Desa Adobala di Kecamatan Kelubagolit. Ketika itu, seorang warga Desa Redon Tena tewas, bagian leherya terputus akibat sabetan parang (Pos Kupang, 2/7/2013).

Lalu, pertikaian berdarah melibatkan warga Desa Wewit dan Warga Desa Nubalema 2 di Kecamatan Adonara Tengah, awal Juni 2019. Konflik itu merenggut satu korban meninggal, tiga korban luka dan lima rumah ludes terbakar.

Konflik paling mencekam terjadi di Sandosi, Kecamatan Witihama, awal Mei 2020. Dua kubu warga dari suku Lamatokan dan Suku Kwaelega terlibat konflik perebutan tanah kebun di Wulen Wata. Konflik itu mengakibatkan enam orang tewas (Antara, 6/3/2020).

Pos terkait