Semoga Sekalian Hanyutkan Konflik Berdarah di Adonara

bencana flotim2 1

Pertikaian paling akhir terjadi pertengahan Maret 2021 di Desa Kenotan, Kecamatan Adonara Timur. Tetap terkait tapal batas lahan kebun, konfliknya malah melibatkan sesama dalam lingkungan keluarga rapat. Pertikaian itu mengakibatkan satu orang mengalami luka terkena sabetan parang di bagian lengan. Tersangka pelakukanya kini sedang menjalani proses hukum di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur.

Catatan tersebut hanya beberapa contoh konflik berdarah yang bersumber dari sengketa tanah. Khusus di Adonara, konflik serupa hingga bunuh bunuhan, sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Simak misalnya catatan misionaris Katolik asal Belanda, Ernst Vatter melalui bukunya berjudul “Ata Kiwan” (Orang Pedalaman?) yang terbit tahun 1932. Seperti diuraikan wartawan Laurens Molan melalui artikelnya berjudul “Adonara dan Sebuah Kisah Perang Tanding”, Ernst Vatter bahkan sampai melukiskan Adonara sebagai Pulau Pembunuh (Antara, 20/11/2012).

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Karena konflik serupa sering berulang dan terjadi sejak lama, maka maklum saja jika Adonara selalu melekat dengan julukan Killer Island atau Pulau Pembunuh. Julukan itu sebagaimana disebutkan misionatis Katolik,  Ernst Vatter.

Badai siklon seroja yang baru saja berlalu, meninggalkan duka memcekam. Namun badai itu juga terasa memuculkan empati dan solidaritas lintas sekat bagi sesama. Kalau begitu, keberlaluan badai sepantasnya sekalian menjadi momentum menghanyutkan julukan Adonara yang selalu ditandai konflik berdarah! (*)

Pos terkait