Timnas Iran: Di Satu Kemenangan yang Berkabut

Kons beo5 1

Dan, adalah Voria Ghafouri, 35 tahun, (mantan) bintang Timnas Iran yang mesti dibungkam. Ia memang terang-terang punya rasa simpati pada keluarga Masha Amini. Dia gencar dalam propaganda menekan pemerintah. Agar hentikan kekerasan terhadap perempuan di negaranya. Keberaniannya berujung pada harga mahal yang mesti dibayar. Ia diamankan pihak intelijen Iran atas titah regim.

Apa yang terjadi sebenarnya di keramaian sebuah stadion? Terlebih di perhelatan akbar sepakbola selevel Piala Dunia? Jelas ada timnas yang ingin tunjukkan kejagoan dan kelayakannya di level itu. Ada suporter yang datang ingin membarakan semangat timnya. Ada agen-agen klub elitis memantau ‘bintang-bintang bersinar di Piala Dunia.’ Tetapi, tak lupa, masih ada agen-agen rahasia dari regim yang ‘bemata elang demi memantau mangsa yang membandel.’

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Di hari kemarin, Iran berjaya. Ia tak melempen lagi seperti ketika hadapi Inggris di pertandingan perdana Grup B. Iran telah bangkit dalam semangat. Mungkin itu bentuk compassionate yang tepat terhadap gemuruh perjuangan dan gelombang protes di jalanan melawan pemerintah!

Wales mesti menyerah 0 – 2 di tangan Iran. 10 pemain Wales tak berdaya untuk akhirnya harus menatap sendu gol Cheshmi dan Rezaeaian di injured time. Gareth Bale tertuntuk lesu. Hari kemarin itu, Iran benar-benar di ‘atas angin.’  Kini, setidaknya sudah ada modal kuat untuk nanti hadapi Amerika Serikat pertandingan akhir penyisihan group.

Tetapi, tafsirkan saja begini. Seperti apa rasa hati yang bekecamuk di dada para pemain Iran? All out, namun dalam tekanan pantauan? Atau ‘tetap saja malas tahu’ ungkapkan rasa yang tak terbendung? Dan walau itu riskan? Sepertinya Timnas Iran ada di pusaran arus simalakama. Kalah atau menang tetap ‘sama saja.’ Jika menang sekali pun, di situ tetap ada suasana hati penuh tawar. Tanpa rasa!

Pos terkait