Tetapi, Timnas Iran harus bermental fight sejadinya. Itulah simbolisasi perlawanan terhadap hukum, kebutaan hati polisi moral, dan regim yang masih saja tega menekan sejadinya rakyatnya sendiri. Dan itu, sudah terbaca menderang saat menghabok Wales kemarin.
Namun, betapa malang sesungguhnya para pemain Timnas Iran. Hanya di stadion dan di kesempatan pertandingan sajalah, mereka dapat tumpahkan segala rasa di hati. Di hari-hari ini, yakinlah Timnas Iran akan bertarung sejadinya. Demi mencapai prestasi sekiranya melampaui target.
Dan bila itu yang terjadi, pasti akan jadi modal tebal untuk satu keramaian yang lebih menghebohkan lagi. Di sini, tidakkah regim Republik Islam Iran mesti ekstra waspada sekiranya ‘tersusup’ nantinya gelora arwah Masha Amini cs yang bikin suasana lebih mencekam? ‘Pulang lebih awal dari Pesta Piala Dunia’ bisa terjadi itulah harapan Penguasa Iran bagi timnasnya.
Akhirnya, di bincang-bincang sederhana tentang Iran vs Wales, teman saya bilang, “Teman, itu bedanya antara pesepakbola dan seorang politisi. Pesepak bola bicara dan ungkapkan rasa sebatas stadion dan waktu pertandingan saja. Dan ia harus berhati-hati dengan topik yang serasa alergi bagi penguasa. Enaknya politisi, dia punya banyak waktu dan tempat di mana dan kapan saja untuk bersuara tentang apa saja. Tak peduli apa semua itu sesuai kenyataan atau sekedar hambur-hamburkan kata begitu saja.”
Di percakapan sederhana ini, saya dan teman saya sepakat. “Betapa beruntungnya Pak Anis Baswedan. Walau bermodal hanya 5 tahun pimpin Jakarta, ia sungguh percaya diri dan kini punya banyak waktu dan kesempatan untuk bersafari ke mana-mana demi jual kelayakannya sendiri jadi 01 RI.”







