Belum lagi andaikan kepada seorang mama tua di kampung yang baru pulang misa ditanya oleh anaknya “Mama, tadi pastor kotbah apa?”. Mama lantas jawab, “Haaale, tadi saya hanya dengar sedikit-sedikit! Pastor ana masih muda itu bilang: Ada pendekatan teologi dari atas dan teologi dari bawah. Pokoknya yang ada logi-logi tu.” Dan sang anakpun senyum-senyum tanya lagi, “Mama tadi tu pigi misa atau pigi kuliah teologi?”
Ini belum lagi soal style saat bawakan homili atau berkotbah! Ada yang bawakan dengan tenang, jelas, pun terarah. Umat pada paham akan sari pati pewartaan Sabda. Tetapi, katanya, ada yang terkesan kaku. Terpaku mati pada teks. Karenanya saat bawakan homili gaya pastor nyaris sama seperti gaya si pembaca teks proklamasi kemerdekaan atau UUD 1945. Ada juga, yang katanya, pastor sungguh berapi-api penuh semangat dalam kotbah atau homili. Umat pada kagum akan begitu fasihnya pastor mengutip-ngutip ayat-ayat Kitab Suci. Sekian semangatnya pastor bersandar ayat-ayat Alkitab sampai harus ‘yakin’ bahwa kalimat “Iman tanpa perbuatan adalah mati” itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma… Atau menjadi tak teliti lagi untuk mengatakan bahwa “Elisabet mengunjungi sanaknya Maria di pegunungan.”
Di hadapan Terang Sabda dan Roh Pemberi Rahmat…
St Arnoldus Janssen dilahirkan di Goch, Jerman pada 5 Nopember 1837. Ia adalah pendiri serikat religius-misioner Societas Verbi Divini (SVD) pada 8 September 1875. Pada 8 Desember 1889 ia mendirikan Konggregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), dan 8 Desember 1896 mendirikan SSpS AP (Penyembah Abadi).







