Bagaimana, mirip pertanyaan Maria kepada Malaekat Tuhan, hal itu mungkin terjadi? Mengapa dari serumah ada lagi Mgr. Paulus Budi Kleden, padahal sudah ada lebih dahulu Mgr. Paulus Sani Kleden (Bapa besar kandung dari Uskup Budi)? Apakah sedang ada dinasti a la gereja Katolik dari keluarga Kleden – serupa dinasti politik yang diributkan di saat akhir pemerintahan Jokowi? Apakah Vatikan diam-diam ‘main mata’ dengan marga Kleden dalam perkara pemilihan uskup?
Keterpilihan Budi sebagai Uskup Agung Ende tak bersangkut dengan urusan ‘main mata’ atau dinasti. Hemat saya, perkara paling utama adalah perkara ‘rumah’, ecclesia domestica yang sekaligus menjadi ecclesia schola dalam keluarga Kleden.
Baik mendiang Mgr. Paulus Sani Kleden maupun Mgr. Paulus Budi Kleden adalah buah tempahan dari keluarga Bapa Yosep Suban Kleden dan Mama Kemohun Kean (orang tua dari Bapa Petrus Sina Kleden). Suban dan Kemohun telah meletakkan dasar yang kuat bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka agar mereka cerdas dan terutama kuat dalam beriman – hal yang belakangan digencarkan oleh gereja agar keluarga – keluarga Katolik sungguh menjadikan keluarga sekaligus sebagai ecclesia domestica dan ecclesia schola.
Hal itu telah hidup dan bertumbuh hingga sekarang dalam keluarga Uskup Budi. Bahkan menyongsong tahbisan Uskup Budi, atas inisiatif keluarga sendiri, sepupu dan saudara kandung Uskup Budi akan nyekar (berkunjung) ke makam Mgr. Paulus Sani Kleden di Denpasar. Setelah itu, selama tiga hari, sebelum beranjak ke Ende menyaksikan tahbisan saudara mereka Budi, mereka mengadakan ibadat Triduum di rumah keluarga Budi (bukan di gereja Waibalun)– hal yang sangat jarang dilakukan oleh keluarga – keluarga pada umumnya.







