Kita Tak Boleh Tercerai Oleh Kerancuan Berbahasa

Kons beo3

Manusia Sudah Menjarak

Telusurilah kisah-kisah keretakan komunikasi di antara manusia. Tidakkah saling menjarak, menjauh, meninggalkan dalam nuansa negatif telah terjadi? Ketidakpedulian tercipta. Ego diri menebal. Sebab, yang mau dipikirkan adalah kenyamanan diri sendiri.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Manusia bisa saja ‘kembali pada sesamanya.’ Namun sering tidak dalam alam sejuk segar penuh damai. Manusia hanya mau mendekati sesamanya dalam narasi dan tindakan destruktif. Sebab, ketidakcerdasan dalam berbahasa sudah terjadi. Tangan dan kaki sudah jadi ringan untuk memberangus sesama.

Luka-luka kemanusiaan sekian tersayat oleh vulgarisme verbal. Manusia hanya mau dan senang bicara tentang sesamanya dalam komparasi peyoratif. Di situ, betapa sulitnya bila harus melihat sisi pelangi indah dalam diri dan hidup sesama. Yang disukai hanyalah tertahan pada sisi suram nan kelam.

Dan menjadi lebih dramatis saat telah menjadi jarang bahkan punah kata-kata berpengharapan. Dunia sepertinya telah disumpeki oleh bahasa-bahasa dakwaan yang pastikan nasib maut yang tertimpa pada sesama. Terlalu murah meriah untuk mengkafirkan, mendungukan, mengharamkan atau pun membiadabkan jalan hidup sesama.

Bahasa Babel Modern Mesti Ditanggalkan

‘Menara Babel modern’ telah dibangun. Ditinggikan dan diagungkan. Itulah jatidiri manusia yang distortif dan deviatif. Menara babel kedirian yang dipilari oleh tiang-tiang keangkuhan, kesombongan, serta kekerasan dalam berbahasa, bersikap dan bertindak!

Di titik inilah, sepantasnya kita mesti rehat sejenak. Untuk mendaur ulang nurani dan isi kepala kita. Demi melihat dunia dan sesama dengan lebih terbuka, luas dan jernih serta sejuk segar.

Pos terkait