Kita Tak Boleh Tercerai Oleh Kerancuan Berbahasa

Kons beo3

Mengapa kah kita lebih berkiblat pada alam manusia lama yang sumpek dengan virus kebencian dari pada sepantasnya memilih kerendahan hati untuk berdamai dan saling mengampuni? Menara babel ‘manusia lama’ nampaknya tetap terbangun dalam segala macam propaganda yang merusakkan dan mengaburkan rasa penuh kekariban antar manusia.

Bahasa Pentekosten: Ketika 

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Hati Mesti Berjumpa Kembali

Kini saatnya, kita mesti diterangi oleh kehangatan cahaya dan api Pentekosten. “Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan! Dan jadi baru seluruh muka bumi….” Dunia dan isi kehidupan ini telah tercabik-cabik oleh kerancuan berbahasa. Iya, itulah bahasa nurani – suara hati, bahasa dan kata yang terucap, pun bahasa-tubuh yang terungkapkan.

Kita seyogianya renungkan sekali lagi kata-kata Martin Luther King (1929-1968), “Kita telah belajar terbang bagai burung, berenang di laut bagai ikan, tetapi belum belajar bagaimana berjalan di bumi sebagai saudara….”

Kisah Para Rasul membentangkan kepada kita satu keheranan inspiratif, darinya kita mesti belajar untuk saling merekatkan diri dalam satu bahasa. “Et quòmodo nos audìvimus unusquìsque linguam nostram, in qua nati sumus?” (Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita? Kis 2:8).

Akhirnya…

Kerancuan berbahasa a la “menara Babel” dengan segala auranya yang menceraiberaikan itu mesti segera ditinggalkan. Saatnya dunia, manusia dan kita sendiri mesti memakai bahasa baru. Itulah bahasa pengharapan, itulah bahasa Kasih, itulah bahasa Roh yang sungguh nampak dalam buah-buahnya merekatkan persaudaraan dalam kemanusiaan: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri…” (Gal 5:22-23).

Pos terkait