Dosen Ini Lebih Suka Menyebut Diri Penjahit

ida
ida3
Memberi pelatihan pembuatan aksesoris dari perca tenun kepada ibu-ibu PIKK PLN Wilayah NTT (foto: dokumen pribadi)

Ida sungguh beruntung. Kedua orang tuanya memperlakukan dia seperti anak normal. Lingkungan yang nyaman, aman dan kondusif didapat secara paripurna di rumah. Orang tuanya juga mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Mendapat perlakuan seperti itu, Ida melaju terus  meniti titian hidupnya.  mengembangkan bakat dan talentanya. Sukses sebagai dosen belum cukup buatnya. Semasa remaja tangannya sudah piawai menyulam dan menjahit. Keterampilan ini diasahnya  hingga jadi terkenal sebagai penjahit pakaian wanita kelas atas saat ini.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Bule dari Belanda yang tinggal di Surabaya juga pernah saya jahit pakaiannya,” kata Ida bangga.

Pakaian seragam ibu-ibu di kantor pemerintah, BUMN, di sekolah, anggota paduan suara di gereja banyak hasil jahitan tangannya. “Jujur, saya sebenarnya lebih merasa diri sebagai seorang penjahit dari pada seorang dosen. Sampai sekarang pangkat saya sebagai dosen negeri juga masih IIIA, saya tidak urus,”  kata Ida sambil tertawa.

Di rumahnya, ada dua mesin jahit dan satu mesin obras. Sudah tua. Kain-kain para pelanggannya penuh dalam dos-dos. Pakaian aneka model hasil jahitannya digantung rapih.

Pernah ikut kursus menjahit? “Tidak. Saya belajar sendiri, desain dan bikin pola sendiri.  Saya sangat puas melihat jahitan saya dikenakan ibu-ibu. Itu kepuasan tersendiri yang tidak tergantikan dengan uang,” kata  Ida mengakui.

Pos terkait