Menjahit itu sudah menyatu dengan Ida. Pulang mengajar di kampus, tangannya langsung merabah mesin jahit. “Kalau sudah duduk menjahit, tidak bangun lagi. Tengah malam kalau bangun, jahit lagi,” timpal suaminya, Novriano. Menikah dengan Novriano 19 Mei 2006, pasangan ini dikaruniai tiga buah hati.
Selain menjahit, tangan Ida juga sungguh terampil merangkai bunga. Bunga-bunga hasil rangkaiannya dalam berbagai ukuran sudah menghiasi ruang tamu di banyak rumah.

Apa yang masih memendam menyaksikan begitu banyak anak cacat tidak beruntung di jalan hidupnya? “Saya ingin jadi motivator, ingin membagi keterampilan kepada anak-anak cacat, juga kepada ibu-ibu atau mereka yang putus sekolah. Saya ingin melatih mereka dengan keterampilan hidup. Saya ingin punya lembaga, punya yayasan sosial di bidang pendidikan keterampilan keluarga yang bisa membantu anak-anak cacat menemukan jalan hidup mereka,” tandas Ida.
Kisah perjalanan hidup Ida, titian perjalanan perempuan tangguh dari pedalaman Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur ini lebih dari sekadar pertarungan merenda hidup. Kisah hidup Ida, jalan hidup Ida sesungguhnya adalah modus eksistensi seorang anak manusia yang tidak menyerah pada fisik tidak sempurna yang mendera. Modus eksistensi seorang anak cacat yang mau berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan orang normal. (tony kleden)







