Suaranya datar. Dingin wajahnya. Seperti mengenang kembali masa-masa awal ketika polio menyerangnya dan tekad orang tuanya agar putri sulung ini sembuh dari polio.
Ida menuturkan, waktu kecil dia merasa minder bergaul dengan teman-teman sebayanya di kampung. Bahkan saat masuk taman kanak-kanak, Ida berontak. Menangis. Tidak mau ke sekolah.
“Waktu TK bapak saya tiap hari gendong saya ke sekolah. Saya menangis dan berontak tidak mau ke sekolah. Saya malu karena nanti diejek dan dibuli teman-teman di sekolah,” kenangnya.
Beruntung para suster di taman kanak-kanak pandai membujuk. “Mungkin mereka suster sehingga pintar dan tahu bagaimana membujuk anak kecil. Mereka memberi perhatian lebih kepada saya, sehingga akhirnya saya ke sekolah juga,” tutur Ida.
Ida ingat betul sampai kelas V SD baru dia merasa nyaman dengan keadaan dan kondisinya. Tetapi itu hanya di sekolah. Di luar sekolah, Ida belum bebas dari ejekan teman-temannya. Dia hanya bisa menangis kalau diolok teman-temannya.
“Bapak selalu bilang ke saya, mereka tidak mengerti apa yang mereka omong itu. Tidak perlu berkecil hati, karena engkau lebih pintar dari mereka,” kata Ida.
Cacat fisik ini tentu menghambat kebebasan bergerak Ida. Sebagai manusia, Ida ingin bekerja maksimal sebagaimana orang normal. Dia juga ingin tampil modis seperti perempuan-perempuan lain yang normal.
“Sebagai perempuan saya iri hati juga melihat perempuan muda pakai sepatu high heels (sepatu hak tinggi), pakai gaun kalau ke pesta. Ingin juga pakai seperti itu. Tetapi saya tahu dan sadar tidak bisa pakai pakaian seperti itu,” katanya.







