Apa yang membuatnya sehingga tetap percaya diri di jalan hidupnya? Faktor apa yang membuat Ida kuat dan tidak hanya bisa pasrah diri?
“Motivasi!” jawabnya tegas.
Dari pengalamannya, kata Ida, motivasi menjadi kunci utamanya untuk maju. Motivasi melecut semangatnya untuk tampil sejajar dengan manusia normal.
“Dari pengalaman, motivasi itu membuat saya bangun dan tampil seperti orang normal. Setelah besar sekarang baru saya mengerti mengapa bapak dulu selalu bawa saya ke mana saja kalau ada acara atau kegiatan. Pasti dia ingin agar dalam diri saya tumbuh rasa percaya diri,” kisah Ida.
Ida ingat kalau ada tamu yang berkunjung ke rumah, bapaknya selalu memintanya menyajikan minuman. “Ada adik-adik yang normal, tetapi bapak selalu minta saya bawa minuman. Dia sepertinya ingin meminta saya tidak perlu malu dengan kondisi saya. Dia mau saya percaya diri dengan keadaan yang ada,” kata Ida.
Kepada orang tua yang anaknya cacat, Ida meminta selalu memotivasi mereka untuk maju. Jangan pernah memposisikan anak cacat pada tempat nomor dua. Perlakuan terhadap mereka juga tidak pernah boleh diskriminatif.
“Saya lihat masih banyak juga orang tua yang malu punya anak cacat. Mereka mengurung anaknya di rumah, tidak mau bawa ke mana saja mereka pergi. Ini sangat tidak baik, mematikan rasa percaya diri anak. Motivasi itu pertama harus datang dari orang tua dulu. Kalau orang tua bepergian bawa juga anak yang cacat, jangan dia ditinggalkan di rumah. Mentalnya akan down kalau diperlakukan seperti itu,” pesan Ida.







