“Saya kastau ya, tidak ada partai politik yang lebih baik, lebih nikmat selain Partai Golkar,” tandas perempuan kelahiran SoE, 11 Desember 1966 ini.
Mulai bergabung di Golkar sejak belia membuat Inche sangat matang. Matang berorganisasi di partai, matang berinteraksi, matang berkomunikasi dan juga matang memimpin. Sikapnya jelas. Kata-katanya tandas. Prinsipnya tegas. Apa yang diyakininya benar akan dibelanya dengan mengemukakan argumen-argumen rasional.
“Saya bergabung dengan AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia) sejak masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Kristen Arta Wacana (UKAW) Kupang. Memang hobi berorganisasi. Waktu masih SMA juga pengurus OSIS,” tutur Inche yang meraih gelar doktor dari Universitas Negeri Solo ini.
Meski jenjang pendidikan diraihnya hingga tangga tertinggi, Inche tidak yakin pendidikan itu satu garis lurus dengan kematangan dan kepiawaian memimpin. “Tidak ada sekolah untuk jadi gubernur, bupati, anggota Dewan. Kalau mau jadi pemimpin harus ikut organisasi,” kata Inche.
Organisasi bagi Inche menjadi tempat seseorang belajar menjadi pemimpin. Organisasi mengasah keterampilan seseorang dalam cara berpikir, menganalisa persoalan, berbicara serta membentuk karakter. Karena itulah, ia selalu aktif dalam kegiatan organisasi, bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi kepemudaan dan organisasi perempuan lainnya.
“Dari dulu saya jarang sekali alpa kalau ada kegiatan di Partai Golkar. Waktu kuliah, ujian sekalipun saya akan berusaha bagaimana caranya untuk ikut kegiatan Golkar,” tegasnya.







