Pengalaman pahit dan manis di Golkar sudah direguknya. “Saya sering mengalami akrobat politik di partai. Dilempar kiri kanan, ditendang, disanjung. Itulah dinamika di setiap partai. Di politik itu kadang-kadang kita di atas, tapi ada saatnya kita di bawah. Saya bahkan pernah berhenti sejenak dari kegiatan partai karena persaingan internal dan lebih aktif menjadi dosen selama 10 tahun. Tetapi saya tidak benar-benar meninggalkan partai. Saya ikuti semua tahapan pengkaderan di Partai Golkar mulai dari awal (bawah), latihan kepemimpinan dasar sampai latihan kepemimpinan utama di tingkat pusat,” tutur alumna SD Inpres Kobelete SoE ini.
Jejak langkah Inche di Golkar terbilang panjang. Merangkak dari bawah. Dari pegang mik ketika tokoh Golkar berpidato, bergabung di AMPI. Menjadi anggota biasa. Ketika menjadi anggota biasa, Inche sering dipercaya duduk di panitia kegiatan-kegiatan. Dinilai layak dan mempunyai kemampuan, Inche masuk dan menjadi bagian dari pengurus partai hingga sekarang menjadi Sekretaris DPD I Golkar NTT, mendampingi Emanuel Melkiades Laka Lena.
“Prosesnya panjang, tetapi juga menarik. Saya sangat menikmati setiap proses dan dinamika partai yang memang harus dijalani untuk menjadi tangguh,” kenangnya.

Proses panjang itu menjadikan lulusan SMA Negeri 1 SoE ini kuat membumi dan mengakar dalam di partai beringin. Ideologi Partai Golkar benar-benar tertanam dalam dirinya, hingga ia merasa tidak ada partai yang lebih hebat selain Partai Golkar.







