KABUPATEN Sumba Barat Daya terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Lupakan Covid-19 sebentar. Anggaplah kondisi lagi normal.
Nah, kalau kondisi lagi normal maka saban hari wisatawan berdatangan ke Sumba Barat Daya.
Pesona wisatanya luar biasa. Dari laut hingga kampung-kampung. Pantai-pantainya aduhai. Mengusik mata siapa saja. Ingin menjejaknya. Kampung adat dengan situs-situsnya menarik nian.
Salah satu yang sudah punya branding adalah Kampung Adat Ratenggaro. Kampung di pinggir pantai ini terletak di Desa Maliti Bondo Ate, Kecamatan Kodi Bangedo.

Iya dengan rumah adat yang masih tertata rapi dan budaya yang terjaga baik serta dipadukan dengan alam laut yang masih asri membuat perkampungan Ratonggaro menjadi tempat wisata yang paling komplet dan layak disebut wisata paling eksotis di Sumba Barat Daya.
Letak kampung ini di selatan Sumba. Persis di tepi pantai. Kampung dengan 11 rumah adat yang sudah berdiri dari target 32 rumah adat merepresentasikan suku di kampung tersebut. Ini bukti bahwa budaya dan alam masih bisa menyatu selama keduanya punya keunggulannya masing-masing.
Walaupun demikian, untuk mencapai tempat seperti ini bukan perkara mudah. Butuh perjuangan dan tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dengan jarak tempuh kurang lebih 1 setengah jam dari Tambolaka, Iukota Kabupaten Sumba Barat Daya membuat siapapun akan merasa gerah dan capai.
Kami beruntung beberapa waktu lalu nekad menjejak Ratenggaro. Tentu saja dengan sepeda motor. Cuaca terik menyengat membuat perjalanan jadi berat.
Kaki mulai terasa letih dan bahu terasa penat. Peluh dan keringat mulai mengalir. Terbersit di benak kami untuk kembali saat tiba di Mangganipi, Kecamatan Kodi Utara.
Tetapi Ratenggaro seperti terus memanggil. Eksotismenya yang kuat memanggil. Dengan tenaga yang tersisa, perjalanan dilanjutkan. Deru kendaraan berpadu asap kendaraan menghiasi perjalanan siang itu.
Rasa dahaga pun menghampiri, menambah derita perjuangan kami. Hingga akhirnya perjalanan kami terhenti di setapak kecil berbatu-batu dengan batu kubur di sisi kiri dan kanannya membuat raut muka yang sebelumnya lelah berubah gembira.
Penuh semangat kaki melangkah maju. Baru selangkah kami dihadang seorang pria setengah umur. Setelah tahu kehadiran kami dan tujuan kami, pria yang selanjutnya diketahui sebagai sekretaris desa itu menpersilahkan kami duduk di serambi rumah salah satu suku di kampung tersebut. Satu per satu masyarakat muali datang membaur. Bersama saling bercerita tentang kisah Ratenggaro yang unik. Mengungkap sejumlah fakta menarik tentang kampung tanah leluhurnya bersemanyam. Menguak misteri yang terlampau sulit diterima akal sehat.
Sementara di seberang sana, sejumlah wisatawan larut dalam euforia keindahan kampung adat yang satu ini. Mereka asyik berfoto ria dengan latar rumah adat yang terbuat dari bambu di sisi kiri kanan dengan ukiran tiang yang menawan sebagai tonggak penyanggah rumah ditambah deretan alang sebagai penutup rumah.







