Oleh : Pater Kons Beo, SVD
“Tanpa kesakitan dan penderitaan di dunia ini, kita tidak bisa benar-benar mencintai Tuhan” (St Arnoldus Janssen, 1837-1909, Imam-Pendiri SVD, SSpS, SSpS-AP)
Adakah yang dicemaskan dalam hidup di dunia masa kini? Iya, dalam dunia yang semakin berkembang? Yang kian mentereng dan maju? Ini tentu mesti jadi satu pertanyaan kunci untuk disimak dan direnungkan. Namun, sekilas, sepertinya tak perlu ada yang dicemaskan.
Ketika segalanya serba maju, apakah yang mesti dicemaskan? Semuanya tersedia. Mudah diraih. Serba cepat dan gesit. Publik sudah bebas dari segala yang serba bertele-tele dan makan waktu. Bukanlah hal yang istimewa bila mobilitas publik itu sekian melejit ke segala arah.
Ini belum lagi bila mesti bicara tentang arena temu publik yang semakin sempit. Segala yang online sebetulnya adalah out of line dari sekian banyak ‘jumpa wajah dan temu hati’ antara manusia. Sebab, dunia yang mahaluas ini sudah dibikin amat minim ruangnya dalam sebuah cellular, misalnya. “Tinggal mainkan saja perangkat teknologi komunikasi modern itu, everything is Ok.’

Tetapi, adakah yang salah dari segala yang serba ‘maju dan modern’ yang dipaket dalam gejolak zaman now? Tentu tidak! Namun, bagaimanapun, apa yang disebut spirit, nilai atau keutamaan sering jadi pertarungan dan taruhan yang tak mudah. Dan memang mencemaskan pula.
Apa terkisahkan tentang tempoe doeloe, sering tertangkap di zaman ini sebagai kisah-kisah ‘yang tidak enak punya.’ Generasi ‘pejalan kaki jarak jauh, naik turun gunung, susuri lembah dan langgar kali atau pengguna kuda tunggangan’ sudah berkurang. Sudah senyap oleh generasi ‘travel dan ojek,’ misalnya. Ini baru satu contoh kecil saja.
Tentu, siapa pun, tak sedang ratapi sejadinya segala yang serba siap-jadi, cepat saji serta serba gesit ini. Yang dipuja kini adalah yang ‘instan, tepat dan tidak makan waktu.’
Namun, tidakkah bahwa sebenarnya telah dan tengah terjadi abrasi serta erosi semangat, spirit dan mental yang membunuh daya juang? Yang membuat manusia kendur dalam bermental fight di dalam hidup?
Yang serba maju dan berkembang ini kerap ditangkap sebagai ‘alam suasana penuh ceriah dan sukacita. Tak ada banyak repot-repotnya. Tak perlu ada kisah derita. Tak ada air mata duka. Tak perlu mesti ‘bersakit-sakit.’ Hidup ini mesti penuh dengan garansi hedonistik (kenikmatan). Dan itu mesti buramkan rasa sukacita yang sesungguhnya (eudaimonia).
Kisah-kisah heroik, penuh perjuangan, tak kenal lelah, pantang menyerah, bertahan dalam serba ketersedikitan, terbatas serta penuh kurangnya sudah ditangkap sebagai jebakan kehidupan yang sungguh disesali.
Tidakkah jalan pintas ‘cepat menyerah’ harus segera teretas? Artinya, manusia lalu cepat tinggalkan sesuatu yang dianggap tidak membuatnya ‘bersukacita, ceriah, aman dan terjamin.’ Bahkan iman dan agama bisa ditinggalkan. Sebab manusia merasa ‘tak nyaman, tak terjamin dalam hidup, dan tertahan dalam apa yang jadi harapan dan impian di dalam keyakinan yang dianut.
Tetapi, tidakkah ini berarti bahwa agama dan iman tak lebih dari sebuah ‘karoseri doktrin pribadi yang egosentrik?’ Yang hanya ditatap dalam kepentingan naluriah? Yang jauh dari gelombang daya tarung isi jiwa yang membebaskan?
Santu Arnoldus Janssen punya seruan sejuk, “Janganlah pernah ragu-ragu, bila penderitaan atau kesedihan menimpah dirimu, melainkan bersyukurlah kepada Allah untuk itu. Dia berkenan menguji abdi-abdiNya, apakah mereka menaruh kepercayaan padaNya?”
Saat menatap salib derita, tentu ini bukan soal pertarungan ide ‘apa ada jin kafir atau tidak di dalamnya.’ Sebab, salib dan derita Tuhan adalah gambaran keagungan dan citra kehidupan yang sesungguhnya. Sukacita kehidupan tak pernah terpancar dengan merampok, menghancurkan dan ‘membunuh’ kehidupan sesama. Sukacita justru lahir dari tindak dan nilai pengorbanan.
Sukacita yang benar hanya didapat dalam ‘memeluk luka dalam Kasih.’ Itulah undangan dari Tuhan yang bangkit bagi si Thomas, yang kurang percaya itu, untuk ‘menyentuh luka derita Tuhan.’ “Menyentuh luka derita Tuhan” adalah tanda mencintai Tuhan. Untuk bersatu denganNya dalam ‘penderitaan, pengorbanan dan dalam kerendahan hati. Demi hadapi satu atau deretan kemungkinan yang sungguh tak pasti dan menyesakkan dada.
Teringat lagi akan satu pengajaran animatif yang menantang dan mengganggu. Di rumah-rumah biara, katanya, banyak hal kecil tetek bengek yang terkadang sungguh bikin gelisah. Mulai dari listrik ‘mati-hidup tidak jelas’ hingga air ‘macet tak menentu.
Soal listrik dan air itu sudah bikin muder dan para anggotanya bercemas hati. Gelisah tak berarah. Apalagi bila bunga-bunga kesayangan di pot terancam kering meranggas. Bahaya sudah! Wah, masih banyak ‘di sana yang sudah lama sekali masih dalam kegelapan, atau pun berkilo-kilo jalan kaki untuk dapatkan air bersih na…’
Mari kita kembali menangkap pesan indah penuh makna dari St Arnoldus Janssen, “Hati manusia yang serba melarat sering merasa risau dan kecewa jika ditimpah penderitaan dan kesulitan, karena pada saat-saat penderitaan, ia tidak memandang DIA yang ‘mengirimkan’ penderitaan itu…”
“Allah menghendaki agar semua yang baik bertumbuh perlahan-lahan di tengah kesulitan.”
Bukankah demikian? Yakinlah!
Verbo Dei Amorem Spiranti
Pada Perayaan St. Arnoldus Janssen Minggu, 15 Januari 2023
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma





