Hari Pers: Buah Pengetahuan, Buah Terlarang: Jangan Kamu Makan!

Kons Beo5 1

Oleh Pater Kons Beo, SVD

“Sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu, musuhnya yang paling besar adalah prasangka, dan pengiringnya yang paling setia adalah kerendahan hati” (Anonim)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Rasa Ingin Tahu

Ada banyak hal yang selalu bergejolak dalam diri setiap manusia. Satu dari sekian banyak gejolak itu ialah rasa ingin tahu. Ada rasa ingin tahu yang wajar dan benar. Dan orang lalu mencarinya dengan cara yang wajar dan benar pula. Dari dunia intelektual-akademik hingga rana hidup pragmatis terbentanglah sekian banyak isi pengetahuan itu.

Rasa ingin tahu adalah modal amat penting agar manusia dapat maju dan berkembang dalam hidup. Ketika isi dunia ini paparkan sekian banyak potensi dan juga sekian banyak tantangan, maka rasa ingin tahu segera berekspansi untuk mencari variasi jalan keluarnya. Ilmu pengetahuan, dalam hal terumit hingga hal yang praktis, menjadikan manusia itu bisa berpikir dan bertindak kreatif, alternatif dan solutif.

Sekian banyak manusia, dengan rasa ingin tahu yang dahsyat, telah hasilkan mahakarya. Dunia jadi berkembang. Jalan hidup manusia menjadi lebih mudah. Dan tak lupa, manusia menjadi lebih produktif dan kreatif.

Cari Ilmu Sampai Dapat

Tetapi, rasa ingin tahu tidak hanya berbuntut pada pengetahuan yang berdampak sosial. Pengetahuan, pun termasuk pengalaman, secara psikologis, bisa tanamkan rasa percaya diri. Terdapat apa yang disebut kepuasan akal budi (konsolasi intelektual). Saat seseorang memiliki pengetahuan yang luas, dan ia merasa ceriah telah ‘sedikit mengetahui rahasia alam dan isi kehidupan ini.’

Ada nasihat bijak dalam keseharian: “Carilah ilmu sampai dapat.” Tentu, dengan segala daya upaya mesti dicari isi ilmu pengetahuan itu. Tetapi, ada cara ringkas, sederhana dan praktis menggapai pengetahuan itu.

Dengarlah suara orang-orang yang berpengetahuan. Belajarlah trampil dari siapapun yang memang berpengalaman. Itulah orang-orang hebat yang sungguh ‘sudah makan garam’ dalam berbagai ketrampilan. Bagaimana pun, itu semua mesti berangkat dari rasa ingin tahu yang sehat dan berbobot.

Narasi Miring Yang Berkerayapan

Tetapi, mari kita lihat sisi lain dari teror terhadap pengetahuan yang benar dan seharusnya. Tidak kah dalam lajunya perkembangan teknologi komunikasi ini irama dan arus penyesatan sekian deras melaju pula? Info-info tiada fakta, tanpa data, tanpa kajian serta tanpa dasar menyusup liar dan ganas.

Konten-konten dengan balutan menarik, yang dibumbui dengan judul-judul penuh gelegar sungguh mengandung umpan yang bisa memperdayai. Keterkecohan massif terjadi oleh teror informasi miring dan sungguh menyesatkan. Di balik semuanya, adakah agenda kelam yang hendak diamankan?

Sepatutnya, tak pernah boleh ada rasa bosan dan kapok untuk  menelisik satu kebenaran informatif. Apalagi bila itu berpautan dengan kepentingan publik dan hak hidup bersama. Perang narasi kini  jamak terjadi. Peluru-peluru informasi ditembakkan. Animo untuk saling menjegal, mengalahkan dan menjatuhkan sungguh menggelora.

Mesti cerdas dan bijak

Memang, aura pesimistik tak boleh jadi dominan dalam menyikapi semuanya. Namun, satu tesis, narasi, opini, ulasan atau informasi mesti difilterisasi dalam secara benar dan terlebih secara bijak. Gelegar ekspansi informasi dan berita memang tak terbendung. Tetapi, bahwa pikiran yang cerdas dan hati nan arif mesti jadi keharusan menangkapnya.

Paus Fransiskus sebutkan semua kemajuan teknologi komunikasi sebagai peluang. Namun, pada saat yang sama Paus ingatkan akan apa yang diungkapkannya sebagai “jebakan website.” Ini dimaksudkan untuk menantang arus penggiringan opini yang tak wajar dan memperdayai.

Ajakan Paus Fransiskus untuk keluar ke tempat-tempat publik, misalnya, bermaksud agar sebisanya untuk dapatkan informasi. Siapa pun memang harus berkorban untuk “auskan sol sepatu” untuk berhadapan dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Mega Proyek Iklanisasi dan Kampanye

Manusia kini hidup dalam alam dunia yang membentangkan daya pikat, pun serentak menarik perhatian penuh gelora. Iklanisasi perbagai dimensi hidup telah jadi mega proyek. Dan semuanya nampak  murah meriah yang dinarasikan dalam berbagai strategi dan lakon kampanye.

Tetapi, tidak kah sebuah kampanye terkadang dibuat miring dan tergelincir ke rawa-rawa propaganda suram? Jika ini yang terjadi, maka disinyalir semuanya tak jauh untuk ditangkap sebagai “teknik membekukan jiwa dengan cara yang membosankan – dengan kotbah dan kampanye pengeras suara yang diulang-ulang jam demi jam.”

Untuk segala yang diulang-ulang itu pun akhirnya berdampak pada ‘kejenuhan, kebosanan, kelelahan dan kepasifan.’ Tidak kah ini semua jadi agenda terselubung dari geliat ‘cuci otak’ demi satu dua kepentingan tertentu?

Tetap Ada Penangkal

Tetapi, kiranya selalu ada basis penangkal segala kajian. Tetap ada peredam segala berita dan info yang tercecer dengan segala intensi di baliknya. Antara apa yang disebut ‘produk-konten’ dan ‘segala lapisan penikmatnya’ selalu ada ‘jala penjaring dan penangkal berita.’

Dalam situasi Indonesia di awal tahun politik yang amat ‘genting dan menentukan’ perang narasi dan ekspansi kampanye sana-sana sudah tak terbendung. Apa yang diperjuangkan tentu mesti tetap berlandaskan pada spirit Pancasila, UUD 45, Bhinnneka Tunggal dan NKRI.

Bermartabat dan Demokratis

Indonesia tak sekadar kisah-kisah yang beragam-majemuk dengan segala latarnya. Tetapi bahwa ia mesti pastikan adanya sebuah wawasan yang mempersatukan. Apa dicetuskan sebagai tema Hari Pers Nasional 2023 “Pers Merdeka, Demokrasi Bermartabat” tentu menjadi bara api yang menggelorakan semangat demokrasi di Indonesia yang bermartabat.

Demokrasi seperti itu yang mesti tetap memiliki Wawasan Nusantara yang bermartabat. Yang merangkul dan menyapa semesta raya Indonesia. Yang tak terkapling dalam elitisme dan oligarkisme. Dan lalu menekan dan mengasingkan yang lain.

Bagaimana pun, anggaplah saja semua pengetahuan, berita, narasi, informasi, kajian, opini, paparan sana-sini sebagai buah-buah dari “Pers Merdeka….” Iya, sebagai bagian dari  Demokrasi Bermartabat, yang mengakui ‘kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat.’

Hati-Hati ‘Buah Pohon Pengetahuan Yang Memperdayai’

Tetapi, ‘mengenai buah pohon pengetahuan – informasi yang terlarang itu, jangalah kita makan.’  Itulah semua kajian yang menyesatkan, yang mengakali. Sebab, jika kita makan, “kita akan mati.” Iya, mati dalam budaya bangsa yang kaya dalam keberagaman.

Kita telah hidup dalam alam Demokrasi Bermartabat. Dalam spirit keanekaan yang mengayomi dan mempersatukan. Namun, sekali lagi, segala kajian yang menyesatkan, info-info yang dilukiskan sebagai ‘buah terlarang, hendaklah tak diraba, apalagi dimakan.’ Sebab kita tak ingin berantakan apalagi mati sebagai  bangsa yang berdaulat.

Akhirnya…

Dan ‘buah yang terlarang itu, tentu tidak bisa diparagonasikan sebagi buah kurma. Yang pohonnya tumbuh subur di padang pasir di wilayah Timur Tengah sana….’

Verbo Dei Amorem Spiranti

  • Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

 

 

 

Pos terkait