Oleh Anselmus D. Atasoge
Merayakan Semana Santa di Kota Tua Larantuka bukan sebuah aksi gagah-gagahan rohaniah. Bukan pula sekadar mengulang serimonial tahunan khas Larantuka. Sejatinya, Semana Santa harus selalu dihubungkan dengan akarnya: Kisah Sengsara Yesus Kristus.
Di dalamnya, orang-orang Larantuka dan para peziarah yang datang ke Larantuka mengambil bagian di dalam perayaan suci ini. Dan, sesungguhnya ‘mengambil bagian di dalamnya’ mengandung makna mengambil bagian dalam Kisah Sengsara Yesus Kristus itu. Dengannya, mereka menimba kekuatan untuk membaharui diri dan kehidupannya setelah menyatukan dan menceburkan diri dengan sekian banyak tokoh yang hadir dalam seluruh Kisah Sengsara Yesus itu: Pilatus, Herodes, Kayafas, Prajurit-Prajurit, Murid-Murid Yesus, Simon dari Kirene, Veronika, Maria Ibu Yesus, Perempuan-Perempuan yang Meratapi Yesus, Yudas Iskariot dan Yesus.
Bisa jadi wajah orang-orang Larantuka dan para peziarah kini dan di sini adalah gambaran asli wajah dari tokoh-tokoh itu. Bisa jadi pula gabungan di antara tokoh-tokoh itu. Tak seorang pun bisa menepis kalau wajah Pilatus yang dengan gampang “cuci tangan” atas soal besar yang dihadapi masih bercokol di Tanah Nagi Larantuka Flores ataupun di mana saja di penjuru Indonesia ini. Siapa tahu juga kalau Herodes yang “haus darah” itu masih “dihidupi”. Siapa tahu juga kalau orang-orang seperti para prajurit yang “hanya tahu menjalankan perintah” tanpa tahu alasan mengapa perintah itu harus dijalankan masih menyelinap di tubuh birokrasi, di institusi-institusi agama dan kelompok-kelompok sosial masyarakat. Dan, siapa bilang kalau orang macam Kayafas yang suka “berkolusi” itu sudah hilang “peredarannya” di bumi ini. Siapa sangka juga kalau wajah Simon dari Kirena kini menampak dalam sejuta manusia yang selalu dibully di media-media sosial karena kebaikan hatinya. Siapa bilang tidak mungkin ada lagi wajah kaum wanita yang menyata dalam diri Sang Bunda Yesus dan para wanita saat ini dan kini yang sedang bersusah hati, berdukacita lantaran dililiti seribu satu macam persoalan, semisalnya habisnya beras di tempat simpannya di rumah, mahalnya harga barang di pasar dan lain sebagainya.
Para murid Yesus, orang-orang yang paling dekat dengan Sang Guru pun punya kisah tersendiri: ada yang menyangkal dan hampir semua melarikan diri! Ya…Petrus Sang Ketua menyangkal Sang Guru. Dan, yang lain lari meninggalkan Sang Guru ketika situasi sulit menghampirinya hingga Simon dari Kirene, orang asing itu, harus menemani Sang Guru di Jalan SalibNya.
Massa Anonim, apalagi! Di Gerbang Kota Yerusalem dengan ranting-ranting zaitun mereka mengelu-elukan Yesus. Dan, di halaman Pilatus mereka serentak berseru: “Salibkan Dia….Salibkan Dia!” Antara sujud syukur sambut senang dan sangkal tolak batasnya amat tipis. Lain muka lain belakang. Lain kata lain aksi. Tak ada persesuaian antara keduanya. Mungkinkah iman yang sudah lama nian diterima dan kuat berakar di hati orang-orang Larantuka dan para peziarah mudah dipengaruhi oleh bujuk rayu aksidental atas nama pemenuhan kebutuhan perut dan perhitungan ekonomis-politis?
Masih banyak tokoh dalam Jalan Salib Sang Guru yang bisa kita identifikasikan. Yang tak kalah pentingnya dalam hal tokoh yang “menarik perhatian” adalah Yudas Iskariot itu. Tiga puluh keping perak itu bukan “maksud hati” Sang Pengkhianat itu. Sedari awal dia tahu kalau Yesus itu “tokoh sakti”. Namun, sejauh pengalamannya, aura kesaktian Sang Guru belum tampak terang. Maka, Yudas “bikin” skenario Getsemani biar Sang Guru “harus” tampilkan “kesaktiannya”: kemahakuasaanNya. Orang-orang yang hendak menangkapNya memang sempat “terjatuh” di hadapanNya. Jantung Yudas bergedup. Dia kira inilah saatnya kesaktian Sang Guru menyembul di balik kepekatan Getsemani. Tapi, skenarionya gagal. Sang Guru “membiarkan diriNya” ditangkap. Jantung Yudas bagai terjebak “sisa-sisa kabel di gorong-gorong”. Dan, ia pun mengakhiri kehidupannya: bunuh diri! Bisa jadi, Yudas itu gambaran orang-orang yang berniat memaksa Tuhan untuk mengikuti skenario kemanusiaan orang-orang itu. “Jangan paksa Tuhan untuk ikut skenario kita,” kata Pater Leo Kleden, SVD. Karenanya, kata-kata sakti Sang Guru jadi junjungan orang-orang yang merayakan Semana Santa: Bukan kehendakKu yang terjadi melainkan kehendakMulah yang terjadi!
Jika orang-orang Larantuka dan para peziarah sungguh-sungguh merayakan Semana Santa di Larantuka maka mestinya mereka pun sungguh-sungguh mengidentifikasikan diri mereka dalam sekian banyak tokoh tadi. Dan, tentunya mereka tidak hanya memanjakan diri dengan aksi identifikasi itu. Identifikasi harus bermuara pada katarsis: pembersihan rohani.
Karenanya, merayakan Semana Santa di Larantuka itu lebih dari sekedar “hijrah” ke Larantuka sebagai “pelancong” untuk menikmati “hidangan masa silam dari tangan para misionaris” atau “mengenang sejarah Kerajaan Larantuka dan aksi kaum beriman perdana di Larantuka” di sebuah masa tanpa misionaris. Semana Santa itu berarti mengambil bagian dalam kisah sengsara Yesus dan menarik nilai serta menuangkannya dalam praksis hidup harian orang-orang yang merayakannya di hadapan diri sendiri dan di hadapan orang-orang yang “tidak merayakannya”. Sejatinya, ia adalah sebuah titik start menuju perubahan. Misalnya, dari yang selama ini jauh dari arena menggereja, akhirnya mulai ‘merapat’ dan menjadi bagian utuh dari seluruh kehidupan menggereja! Jika selama ini yang rohaniah spiritual menjadi urusan ke dalam diri, maka setelah perayaan ini ia tidak tinggal diam dalam ‘kesendiriannya’ melainkan menjadi bekal spiritual dalam bersaksi hidup di tengah dunia yang dicoraki pluralisme agama, budaya dan etnis.
Selamat ber-semana santa dengan intensi yang transformatif!
* Penulis, alumnus Program S3 Studi Antar Iman
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta





