Tuhan Selfi’: Virus Keagamaan yang Makin Menggumpal

Kons beo5

Oleh Pater Kons Beo,  SVD

“Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tetapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?” (R.A Kartini, 1879 – 1904)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Apa jadinya jika dunia sungguh diatur oleh ‘ego-diri’ manusia yang tak terkendali? Yang telah terjadi, dari waktu ke waku, sebenarnya adalah paralisasi primat Tuhan. Abad Pencerahan, seturut mata Nietzsche, adalah sumber pemakluman ‘Got ist tot’. Tuhan telah mati. Tuhan sudah tak berdaya lagi. Telah senyap.  Padahal di zaman yang sekian panjang  sebelumnya, Tuhan ada di semua titik kehidupan manusia.

Manusia telah ‘membunuhNya.’ Dan lalu manusia mengambil semua hak. Dan dari situlah manusia membangun imperiumnya sendiri. Ingin menentukan segalanya dari sudut pandangnya sendiri.

“Yang menggerakkan kehidupan hanyalah Tuhan-selfi.” Dan situlah ego-diri manusia hendak berperan mutlak. Tuhan yang ‘lama’ tak lagi sakti. Tak sakral. Iya, Tuhan yang banyak  gagalnya . Bahkan sudah keterlaluan.

Tetapi, sungguh kah Tuhan telah mati? Benar kah Tuhan telah dikadrunkan dari kisah-kisah hidup manusia? Banyak kemungkinkan dapat direfleksikan.

Di titik awal, Tuhan ditangkap sebagai ‘Tuhan fungsionaris.’ Artinya? Tuhan hanya dihadirkan atau diakui keberadaannya  saat Ia sungguh berperan dan tunjukan kuasaNya sesuai intensi manusia. Tuhan seperti itu, kata seorang misionaris di pedalaman Papua Nugini, misalnya, harus diserukan untuk bikin celaka tetangga dari orang yang berikan intensi lewat doa sang Misionaris.

Sulit hayati agama dan mengalami Tuhan itu dalam forma ‘iman karakterisrik.’ Artinya? Biarlah Tuhan tetaplah Tuhan yang disembah in any situation. Nyatanya, Tuhan dipanggil ‘sesuai kebutuhan. Dan Ia harus berfungsi.

Fenomena ‘pindah agama’ atau ‘ubah cara pandang tentang Tuhan’ dapat ditelisik dalam kerangka ini. Jika agama dan Tuhan tak memberi harapan lagi dan tidak lagi nyamankan hidup, untuk apa ia dipertahankan selain ‘pindah dan cari gantinya?’  Pola keberagamaan utilitarian dan oportunis jadi pilihan terbaik.

Hal lain lagi? Ganjalan iman ‘burung-burung musim’ tetap nyata. Seorang ayah merasa diri kembali ‘amat beraroma Katolik’ menjelang anaknya menerima komuni pertama. Sekelompok orang tertentu merasa amat islamiyah, ketika saat-saat puasa suci, diubah jadi alam mencekam bagi ‘warung orang sederhana yang berjuang cari hidup.’

Agama yang dihayati dalam terowong gelap-pengap dalam virus proyeksi diri yang mencemaskan. Agama dalam bahaya saat Tuhan dikerdilkan dan dipasung. Dan manusia, tanpa sadar, mengatur-atur Tuhan demi seleranya. Praktisnya?

Kita ulangi kata-kata Karen Amstrong, “Tuhan menyukai apa yang kita sukai, membenci apa yang kita membenci.”

Nyata sekali bahwa Tuhan menjadi tak akbar lagi sebab, “Tuhan hanyalah perpanjangan identitas kita, rasa was-was kita, curiga kita, narsisisme kita”.

Benarkah agama adalah jalur suci manusia ungkapkan kepasrahannya? Untuk menjaring nilai-nilai kehidupan dari ‘alam kesakralan’ (Tuhan)?

Tidakkah agama adalah alam paling tepat di mana cinta dan belaskasih terjumpai? Sayangnya, andaikan “agama,” disinyalir, “telah jadi ideologi kemarahan murah meriah dan penuh histeria.” Ini terjadi saat cahaya lilin teduh damai dan sukacita terpadamkan dan segera diganti dengan kobaran api kekerasan, intoleransi dan segala jenis persekusi.

”Kita sebenarnya mencipta sosok ‘seolah-olah Tuhan’ yang pada gilirannya mengharuskan kita wajib menggebuk yang bukan kita.”

Mari kita renungkan kenyataan berikut. Sosok seperti ‘apakah Tuhan itu dalam benak segelintir ustad mualaf mantan pendeta atau mantan pastor, dengan ketrampilan mereka mengecoh pendengar dan bahkan dalam ‘melumpuhkan’ Tuhan.

Walau harus melucu bunuh diri yang dipaksakan, anggap saja bahwa Ustad Kainama, misalnya, pernah belajar di Sekolah Tinggi Teologi – Jakarta. Terus lanjut master Teologi di Leiden – Belanda, dan akhirnya tamat S3 di Haifa – Israel, dan ia pun pernah tinggal di Torino sambil belajar pula di Vatikan.

Ustad Kainama dan  ustad-ustad lain segayanya, katakan seperti Ustad Bangun Samudra, atau Yahya Waloni bisa saja pernah ke Israel, Leiden, Roma atau ke Vatikan. Sayangnya, mereka tak menuntut ilmu.  Katakan saja si Kainamana Cs hanya berswafoto, cuma selfi di kota-kota itu.

“Kepulangan mereka dari luar negeri ke tanah air” dengan modal foto selfi itu sungguh mengecoh untuk membentuk pola dan rasa keagamaan selfinya pula. Di titik seperti ini, si Kainama Cs menjadi pusat, sentrum pemberitaan. Dan komunitas pendengarnya pun terjebak dalam ‘foto diri sendiri’ sebagai yang utama, yang benar, yang saleh, yang asli-sah. Dan kafirunlah semua yang berbeda dan yang tak sejalan. Sungguh meresahkan!

Tapi nyatanya para ustad mualaf selfi ini tetap punya panggung. Ceramah-ceramah mereka diperdengarkan dan kembali disiarkan.

Adakah mungkin yang sengaja merawat mereka? Dan lalu diberi kesempatan yang tepat untuk kembali mengecoh? Sekiranya, setidaknya, ada otoritas yang  ‘meneliti cermat ijasah mereka.’

Indonesia, tanah air, mesti tetap dalam lindungan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itulah Tuhan Yang Mahakuasa dan Tuhan Segalanya. Bukanlah sosok Tuhan untuk sekedar ‘latar dari sebuah self’ dari hasrat dan ambisi sekelompok. Yang jadi ancaman alam kerukunan dan kebersatuan Indonesia Raya. (*)

Verbo Dei Amorem Spiranti, Villa Sandra – Portuense

Roma

Pos terkait