Nasdem Tower,  BTS 4G dan Menara Babel

Kons beo5

Oleh Pater Kons Beo, SVD

Di hari itu, Senin 3 Oktober 2022, Surya Paloh, atas nama Partai Nasdem, siap-siap tancap gas. Ini demi kelanjutan kepemimpinan di negeri ini. Ada ilham politik terutama turun ke atas Surya Paloh, untuk terompetkan nama Anis Baswedan sebagai Capres Partai Nasdem. Dan itu serius!

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Soal tragedi Sepakbola Kanjuruan masih membekaskan duka mendalam secara nasional, sang Ketua Umum Partai Nasdem ini, bisa saja tak terlalu peduli. Tetap ada perhelatan politik di Nasdem Tower sehari setelah tragedi yang makan korban itu. Bila diringkas dari perbagai suara: ada intensi politik terbaca. Inilah saatnya Surya Paloh segera jadi King of making decision for the country dan Nasdem sendiri mesti segera mengangkasa. Kuasai cakrawala peta perpolitikan nasional.

Adakah yang salah dari Surya Paloh dan Nasdem? Tentu tidaklah! Siapapun warga negara yang miliki syarat dapat mencalonkan atau dicalonkan sebagai kandidat pemimpin negeri ini. Apalagi pada level partai sekelas Nasdem, yang cenderung bersinar dalam samudra politik di tanah air. Pak Surya Paloh tak usah cemas lagi dengan pertanyaan menyayat: “Apa salah Nasdem?” Tak ada yang salah!

Hanya saja cibiran sosial tetap berbau politik. Tegahnya Nasdem tu masih dalam koalisi pemerintahan, kok secepatnya meroketkan capresnya. Tentu ada pertimbangan taktis, strategis, politis yang hanya Tuhan dan Nasdem  sendiri yang tahu.

Padahal pula orang-orang kuat Nasdem masih bertakhta sebagai menteri, yang membantu presiden. Ada Johnny G Plate (Menkoinfo), Syarul Yasin Limpo (Menteri Pertanian) dan Siti Nurbaya (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Sejak nama Anis Baswedan digemakan, Nasdem Tower goyah. Tak mungkin semua kader dan simpatisan partai mengekor Surya Paloh dan jajaran elitis partai begitu saja. “Mulai dari saat itu banyak murid Nasdem undurkan diri dan tidak bersama Paloh lagi.”

Hari-hari berlalu, momentum kerja berat Nasdem harus dimulai. Tidak terutama untuk ‘menjual nama dan ketokohan Anis Baswedan.’ Sebab tanpa mendagangkan nama Anis Baswedan, Sabang sampai Merauke sudah pada kenal kualitas kepemimpinan bekas orang nomor satu  DKI Jakarta ini.

Nasdem lagi berjuang untuk ‘pulang ke rumah bapa di istana sebagai partai yang hilang. Setelah ia beria-ria di Nasdem Tower pun setelah bersafari politik ke sana kemari dengan sang mempelai Anis Baswedan.’ Sekiranya bapa di istana dan rakyat kebanyakan akan kenakan ‘sepatu baru, jubah terbaik, cincin pada jari Nasdem dan Anis Baswedan.’ Dan segera pesta kemenangan siap dirayakan. Sayangnya, ‘pulangnya Nasdem dan Surya Paloh’ tak segampang itu yang diperkirakan! Pintu rumah istana masih tertutup buatnya.

Belumlah kembali sekian kokoh imbas dari Nasdem Tower, 3 Oktober 2022, kini Nasdem dan Surya Paloh lagi didera dugaan kasus infrastruktur BTS 4G dan infrastruktur pendukung paket 1,2,3,4,dan 5 BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2020 sampai 2022. Di sini ada Johnny G Plate sebagai menterinya. Dana 8 triliun bukanlah angka sembarangan! Menteri dari Nasdem, Johnny Plate, dicurigai berandil demi partainya. Curiga mulai menggumpal sana-sini. Biarlah nanti palu akhir pengadilan yang putusakan semuanya. Iya, seperti apa sebenarnya perjalanan hulu ke hilir  triliunan rupiah itu.

Siapapun boleh menduga-duga adanya relasi mumpungisme antara Nasdem dan salah satu kader terbaiknya ini. Hujatan, sindiran, atau apa pun cercaan, dalam nada keras, halus dengan ragam analisisnya, hari-hari ini terasa sulit untuk ditangkis total oleh semua kader dan simpatisan Partai Nasdem.

Bijaknya, biarkan saja jalur hukum berjalan seperti apa adanya dan seharusnya. Tentu akan tiba pada muara kejelasannya. Namun apakah semudah itu? Indonesia lagi berpaduan suara dalam koor politik maharaya. Dan di situ, PILPRES adalah cantus firmus, iya sebagai nyanyian utamanya. Segala riak, gejolak, gesekan, kasus dan berbagai tindakan demi penegakan hukum pasti dikaitkan dengan PILPRES.

Presiden Jokowi, sepertinya dipaksa masuk dalam pusaran kompetisi PILPRES. “Ini semua gara-gara kemarahan regim yang tak setuju calon presiden usungan Nasdem; Ini dendam penguasa, di baliknya ada partai banteng, yang ingin tenggelam Partai Nasdem.” Pokoknya ramailah sudah.

Sebagai politikus dan juga sebagai orang bisnis, Surya Paloh pasti berpikir serius, bagaimana mesti kembali ke gelanggang pilpres, pileg dengan cara-cara sejuk. Jika tak ada cara-cara sejuk maka taktik playing victim dan strategi politik identitas dimainkan kembali.

Jika direnungkan sekadarnya: Nasdem sebenarnya lagi di jalur tiga menara yang ringkih dan tak berfondasi kuat. Ada menara BTS 4G yang tak bisa dilepaskan begitu saja relasi  antara Partai Nasdem dan Menkoinfo Johnny G Plate, sebagai elit partai. Ada lagi menara Nasdem (Nasdem Tower) ketika nama Anis Baswedan disulap jadi pahlawan, jauh beda ketika masih Pilkada DKI Jakarta 2017 berlangsung. Namanya juga politik. Ada imbas positif yang sudah dicermati dan diperkirakan.

Akhirnya….Dan teringatlah lagi kisah Menara Babel. Terkisah di Alkitab Kejadian  Pasal 11. Ada kerja keras manusia ketika saling berjumpa di tanah Sinear. Batu bata tanah liat disiapkan, pun ter dari gala-gala diadakan. Ada saling komando, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan mari kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej 11:4).

Sayangnya, semuanya jadi berantakan. Bencana ketidaksalingmengertian terjadi. Tuhan kacau balaukan bahasa mereka. Semuanya terserak dan berantakan.

Sungguhkah menara Nasdem (Nasdem Tower) telah jadi simbol kekacauan bahasa internal partai jelang Pilpres? Yang jelas, kini, di jalur berikut, Pak Johnny Plate diduga telah hilangkan kesempatan emas untuk mempersatukan bahasa pembangunan dan bahasa persatuan masyarakat daerah-daerah terpencil.

Kita gencar di tol darat dan di tol laut. Sayangnya kita tersandung di tol udara wilayah-wilayah terluar. Menara-menara BTS 4G masih dalam keadaan ‘layu sebelum berkembang.’ Mungkinkah karena kita hanya mau fokus untuk kembangkan layar kandidat demi kemenangan di Pilpres?

Kiranya Indonesia mesti bersabar untuk kejelasan semuanya. Untuk tidak bikin gaduh dengan segala claiming dan tuduhan ini-itu dan sana-sini. Kita doakan Pak Johnny Plate untuk sebuah seruan Yesus: “Jika ya hendaklah kamu katakan: ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dai si jahat (Matius 5:37). Tentu  ini juga berlaku untuk siapa pun kita.

Verbo Dei Amorem Spiranti.

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait