Tak Semestinya Tetap di Sini…

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Oleh Pater Kons Beo, SVD

“Marilah kita bertolak ke seberang” Markus 4:35

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

SEKIRANYA ‘tetap di sini’ dapat terjadi kita bakal ‘tetap seperti ini.’ Kata orang “Iya, seperti itu-itu saja.” Tak ada yang bergerak. Dan tak ada yang berubah pula. Namun, semudah itu kah kita lantas bergerak pergi? Untuk tinggalkan semua di sini dan kemudian bergerak, beralih, bertolak, menjauh raga mata memandang dan semakin berjarak hati?

Namun, ini bukanlah kisah-kisah hidup yang mudah. Sebab?

KITA telah berakar sejuk dan nyaman di tempat itu. Kita telah ‘punya nama’ di situ. Popularitas, serta segala alam kelekatan telah menjadi ‘punya kita.’ Iya, di tempat itu, di alam seperti itulah ‘seluruh jiwa raga kita berada.’

Tetapi harus kah kita bertolak….?

AJAKAN Yesus bagi para murid, “Marilah kita bertolak ke seberang’ segera disikapi. Dan mulailah terjadi. Lalu sepertinya tantangan awal mulai menyentak. Mungkin saja, Yesus dan para murid mesti segera ke seberang untuk sejenak beristirahat. Dari segala kepenatan pelayanan…

Namun, terlukis nyata…

“Mereka meninggalkan orang banyak” (Mrk 4:36).

Tinggalkan orang banyak artinya tinggalkan keramaian. Lepaskan segala rasa ketergantungan orang banyak yang, bisa saja, telah menganggap Yesus dan para murid adalah segala-galanya! Di situlah Yesus tak ingin agar para muridNya terlelap dalam keasyikan sensasi dan eforia orang banyak.

Sebaliknya….

YESUS inginkan agar para murid, “menjelang malam” itu juga, segera bertolak ke seberang. Sepertinya segala kisah terang cahaya mentari para murid mesti segera diredupkan oleh kepekatan menjelang malam. Inilah kisah perjalanan mengikuti Yesus yang menjadikan hati para murid terasa sungguh galau.

Pos terkait