Oleh Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD
Sebelum kembali ke Indonesia setelah berkarya selama 12 tahun di Roma, saya mengunjungi makam dua pendahulu saya, Mgr. Petrus Noyen dan Mgr. Hendricus Leven di rumah induk SVD di Steyl, Belanda.
Setelah tiba di Indonesia, sebelum melanjutkan perjalanan ke Ende, saya mampir di Palasari, Bali, berziarah ke makam Mgr. Antonius Thjissen, SVD. Di sana juga ada makam Mgr. Paulus Sani Kleden, SVD, bapa besar saya, saudara sulung dari ayah saya.
Saya amat bersyukur, bahwa pada saat diterima oleh Romo Administrator Diosesan, Romo Daslan Moangkabu, bersama para imam, di rumah keuskupan Ndona, saya, diantar oleh para tokoh umat dari ketiga kevikepan dan ribuan umat berdoa terlebih dahulu di depan makam Mgr. Donatus Djagom, SVD, Mgr. Abdon Longinus da Cunha, dan Mgr. Vinsentius Sensi Potokota, di depan kapela rumah keuskupan Ndona. Setelah beberapa hari di Ende, saya ke katedral ini, mengunjungi makam Mgr. Arnoldus Verstraelen, SVD.
Pada bulan Desember tahun lalu, saat berkunjung ke komunitas SVD di Techny, Amerika Serikat, saya berziarah ke makam pertama Mgr. Gabriel Manek, SVD, sebelum jenazahnya dipindahkan ke Lebao, Larantuka.
Pada tahun 2017, dalam kunjungan ke komunitas SVD di Nagasaki Jepang, saya diantar ke makam Mgr. Paulus Yamaguci, yang diutus bersama Mgr. Aloysius Ogihara SJ, membantu Mgr. Leven menjalankan misi di Flores selama Perang Dunia Ke-2.
Kunjungan ke makam para pendahulu ini mengingatkan saya akan apa yang ditulis dalam surat kepada umat Ibrani, sebagaimana kita dengar dalam bacaan kedua tadi: “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”.







