Oleh Pater Kons Beo SVD
Bacaan I Kejadian 17: 3-9
Mazmur Tanggapan- Mzm 105: 4-5.6-7.8-9
Ref: “Selama-lamanya Tuhan ingat akan perjanjianNya”
Injil Yohanes 8:51-59
“Jika Aku memuliakan DiriKu sendiri, maka kemuliaanKu sedikitpun tidak ada artinya…”
Yoh 8:54
(Si ego glorifico me ipsum, gloria mea nihil est)
Kawan ku…
Tanpa kita sadari, kita sebenarnya tersandra dalam rawa-rawa haus pujian. Segala macam modus telah kita rakit sebagai pencitraan demi tiba pada pengakuan dari sesama. Iya, dari publik lah!
Kawan ku…
Kita berada di alam sungguh gawat. Sebab kita lagi memburu pujian; hati kita tak nyaman tanpa gemuruh aplaus; kita berkecil hati tanpa pijar kemuliaan. Kita bakal punya impian tebal sekiranya di suatu saat nanti “aku tercatat dengan tinta emas serta dikenang dalam serba monumen serta prasasti bercahaya.”
Kawan ku…
Banyak suara bernilai ingatkan: Jangan terlalu konsen hanya pada jalan demi ‘glorifikasi diri sendiri.’ Sebab di situ bisa terbuka jurang menganga untuk ‘kecilkan dan rendahkan sesama.’
Kawan ku…
Katanya lagi, “Orang hanya butuh cahayamu yang lembut dan teduh agar mereka dapat melihat sekitarnya dengan teduh pula. Sayangnya, kau nyalakan dirimu sendiri terlalu bersinar sejadinya, dan akibatnya? Orang jadi tersilau, dan bahkan jadi rabun untuk tak sanggup melihat baik dan jelas lagi.
Kawan ku…
Jalan dan kisah hidup Yesus, Guru dan Tuhan, sungguh adalah sebuah pencitraan istimewa, benar dan lurus. Artinya? Ia mencitrakan kehendak Bapa. IA tegaskan kedaulatan Kerajaan Allah. Yesus maklumkan nilai-nilai Injil – Kabar Baik. Kata-kata, sikap, perbuatan dan tindakanNya tak berpusat pada DiriNya sendiri. Iya, tidak pada kemuliaan DiriNya.







