KABARNTT.ID–Kompetisi bola voli putra-putri HUT Matim Cup I yang diselenggarakan PBVSI Manggarai Timur sudah berlalu. Panitia sukses menghadirkan warna-warni kehidupan yang menyegarkan. Masyarakat terhibur. Penonton puas. Para peserta kompetisi pun legah, karena semua kegiatan berlangsung begitu indah. Meski ada riak-riak kecil, tapi tak menyisakan luka bagi sesama pemain. Semuanya lebur dalam damai dan sikap sportivitas.
Tim yang meraih kejuaraan mengulurkan syukur dan terima kasih kepada panitia. Sebab galau sanksi sempat menggelayut. Terutama jumlah hadiah pembinaannya. Ada rentang jarak yang begitu lebar antara uang pendaftaran dengan nominal hadiahnya. Juara I, misalnya, ada piala bergilir, piala tetap dan uang pembinaan sebesar Rp 10.000.000. Suatu jumlah hadiah untuk ukuran sekelas bola voli amat sensasional.
Benarkah angka hadiah tersebut nyata atau sebatas stimuli godaan bagi peserta untuk terlibat dalam kompetisi HUT Matim Cup I?. Itulah butir gunda gulananya. Sikap skeptis demikian umumnya berasal dari mereka-mereka yang pernah ikut kompetisi. Sebab, konon katanya, entah di mana itu. Tapi pernah terjadi. Panitia penyelenggara kompetisi mengumumkan hadiah menggiurkan. Jumlah besar. Juara 1 hadiah Rp 10.000.000. Maka tim ramai-ramai daftar dengan uang pendaftaran yang cukup besar pula.
Namun faktanya jumlah uang hadiah yang diterima peserta yang meraih kejuaraan berbeda dengan angka yang diumumkan. Padahal dalam pengumuman cukup jelas nominal hadiahnya. Tak heran, tim yang meraih juara mencak-mencak. Panitia tidak konsisten. Bahkan nekat patahkan piala di depan panitia. Itu cerita di negeri antah beranta sana, bukan di Manggarai Timur.







