Oleh : Pater Kons Beo, SVD
Koq entah bagaimana ya alur pikir itu? Bahwa Gempa bumi itu bisa dikaitkan secara paksa, liar dan sembrono dengan ‘dogma, patung, devosi religius.’ Intinya, karena sembah berhala (patung), karena sesat ajaran, maka datanglah gempa bumi!
Inti dari suara itu?
Tuhan tersinggung berat. Penuh amarahlah Dia. Maka diturunkanlah gempa bumi. Dan kutukan itu menyasar telak pada tempat tertentu itu. Pada semua mereka yang masih tersesat.
Tuhan, dengan peristiwa gempa ini, beri teguran keras dan maut agar semua yang tersesat itu bersegeralah kembali ke ajaran dan jalan keagamaan yang benar.
Bagaimanapun…
Tetap kembali pada soal utama itu: Sedemikian murkakah Tuhan pada umatNya sampai-sampai harus turunkan laknat gempa bumi sedahsyat itu? Apa benar gempa ini sungguh akibat salah total manusia dalam praktek beragama dan beriman?
Sesungguhnya ada hal tersembunyi namun nyata. Gempa bumi telah bikin mata manusia terbuka dalam pilihan pasti: mana agama yang benar dan mana kisah beriman sesat yang datangkan murka Allah?
Dan ujung-ujungnya…
Dalam bahasa populer, kira-kira begini tesisnya: “Kami benar, kamu salah; kalian kabur, kami terang; kalian palsu dan kamilah yang murni; kamilah tanah dan kaum terberkati, sementara kalianlah kaum dan tanah terkutuk.
Maka….
Agamanisasi kisah gempa bumi dalam ‘dogma pribadi’ seperti ini sungguh menggelikan dan patut disayangkan. Apalagi ketika Firman Tuhan diplintir suka-suka dan bebas merdeka, copot sana copot sini demi mendukung, atau tepatnya membenarkan ‘tafsiran atau opini pribadi.’





