Tentu, gempa bumi adalah kisah miris yang berdampak pada pola pikir dan pola sikap manusia. Baik bersifat personal maupun sosial, atau baik individu maupun kolektif.
Ketika sekian banyak insan bertarung dalam aksi belarasa dan kisah solider, dalam berbagai ungkapan nyata tak mati rasa, ada suara nabi palsu yang isyaratkan kutukan Tuhan.
Di masa kini, jika ingin pahami misteri bencana alam, semisal gempa bumi, toh ada sumber scientifik yang bisa dijadikan rujukannya. Ada suara-suara referensial yang patut dipercaya demi terhindar dari bahaya yang lebih dramatis.
Karena itulah…
Gempa bumi, gempa susulan, patahan dalam lapisan bumi atau pun tsunami tak dicari-cari entengan hanya dalam Alkitab. Lalu ditafsir plonga-plongo demi ‘pembenaran hanya oleh Firman Allah, ‘sola scriptura’ yang rapuh tanpa dasar.
Sungguh! Inilah satu ironia sensus religius yang menyesatkan dan mengakali. Ibarat membenarkan iman sendiri dengan mencatut nama Tuhan dengan kutukanNya. Atau galakan aksi purifikasi murahan keyakinan sendiri di atas luka dan derita sesama.
Tetapi, mungkinkah suara nabi palsu sebenarnya punya maksud ganda? Ia lagi sebarkan utopia nafsu kemurnian bagi ‘kelompok atau golongannya sendiri.’ Atau pada saat sama, sang nabi palsu itu, sambil menindih beban derita sesama, bermanipulasilah ia demi tenarnya.
Bencana alam (gempa bumi) bagi si nabi palsu, adalah jalan mulus untuk meraup untung dalam kepentingannya sendiri. Melalui suara dan kata-kata, ia bisniskan bencana alam atau ‘kutukan Tuhan’ demi muluskan dan benarkan hidupnya.





