Kenormalan Baru untuk Keadaban Publik

ilustrasi

Ada berapa banyak orang yang menyalakan lampu jarak jauh yang menyilaukan dan mengganggu pengendara yang berlawanan arah. Berapa banyak orang yang mengganti knalpot mobil atau sepeda motor agar bunyi gagah dan meraung-raung, dengan akibat membisingkan telinga? Tidak sedikit anak muda yang menjadikan jalan raya di dalam kota sebagai sirkuit balap motor atau mobil, sehingga orang lain terpaksa minggir.

Daftar contoh ini bisa diperpanjang dan bisa pula diperluas ke arena kehidupan lain, sebut saja soal antrean, berjualan di trotoar atau mengambil sebagian badan jalan, dan sebagainya. Ini dilakukan warga kaya atau miskin; orang berpendidikan atau tidak bersekolah.

Dari contoh itu segera tampak mengapa aneka persoalan besar seperti korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan tidak mengalami penurunan yang berarti. Dengan mudah kita mengulangi penjelasan bahwa itu semua karena penegakan hukum yang lemah. Penjelasan itu bukannya salah, tetapi makin lama makin terdengar sebagai klise. Ia klise lantaran membuat kita tumpul dan lebih penting lagi membuat kita  tidak mencoba rute baru perubahan.

Maka kenormalan baru (new normal) terkait pandemi Covid-19 setidaknya bisa menjadi momentum harapan untuk  bangkit dan bergerak ke arah ‘eksperimen’ perubahan, ke arah peradaban publik yang sungguh kasat mata.

Eksperimen itu mencakup banyak agenda dan menjangkau luas ke berbagai tatanan kehidupan bersama. Barangkali pola hidup baru dan gaya hidup sehat dengan protokol kesehatan bisa dijadikan titik awal dan pintu masuk untuk terbangunnya peradaban baru itu.

Pos terkait