Kadang-kadang kata habitus diterjemahkan menjadi watak dan juga karakter, yang berarti keseluruhan keadaan dan cara bertindak terhadap suatu rangsangan. Watak terus berkembang dalam masa kehidupan seseorang. Watak ini berkaitan dengan fungsi saraf pusat. Watak juga dipengaruhi oleh faktor eksogen, seperti lingkungan, pengalaman dan pendidikan (Hubertus Kasan Hidayat, DSJ, Gangguan Kepribadian Dan Perilaku Masa Dewasa, Catatan Kuliah Ilmu Kedokteran Jiwa, 1998).
Insting bukanlah dalam arti naluri yang sudah tertanam dalam diri manusia dan tidak bisa diubah, melainkan yang dimaksud adalah kemampuan bereaksi yang kurang lebih spontan dari manusia terhadap suatu masalah yang akan menjelma dalam seluruh sikap dan tindakannya. Insting ini dibentuk melalui suatu proses yang relatif panjang. Maka kata gugus menunjukkan adanya kesatuan dari beberapa elemen pembentuknya, yang diandaikan saling terkait erat dan saling dukung, serta ada konsistensi di dalamnya.
Elemen–elemen itu antara lain sikap dasar terhadap Tuhan, terhadap diri, terhadap manusia, terhadap masyarakat, terhadap pemerintah, terhadap dunia pendidikan, terhadap alam lingkungan, dan sebagainya. Masing-masing elemen sikap itu ada dalam diri manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok, dan akan menjadi habitus bila saling terkait dan tidak saling kontradiktif atau saling meniadakan, lalu mendasari cara bereaksi terhadap masalah yang dihadapi, baik secara emotif (rasa-perasaan), maupun secara kognitif (pemahaman) dan motoris (tindakan).







