Perubahan ke arah pola hidup baru ini mesti menjangkau semua segi kehidupan. Tidak hanya terbatas untuk mencegah dan mengatasi pandemi convid-19. Dalam garis ini, pola hidup baru mesti bermuara pada terbentuknya peradaban baru.
Dengan membangun dan mengembangkan new normal, akar-akar yang menyebabkan korupsi, kerusakan lingkungan, kekerasan dan penyelewengan kekuasaan, ketidakdisiplinan dan ketidakjujuran dalam mengerjakan proyek, dan sebagainya, diharapkan dapat diatasi dan secara bertahap keadaban publik terbangun dan kesejahteraan umum terwujud.
Habitus Baru
Pilihan untuk membangun dan mengembangkan peradaban baru bukanlah pilihan yang mudah, karena ternyata mesti bermuara kepada terbentuknya budaya (habitus) pribadi. Perilaku memakai masker saat bepergian, gaya hidup sehat, serta berbagai aktivitas dengan tuntunan protokol yang ketat, sesungguhnya harus berasal dari dalam diri dan menggerakkan orang untuk memilih dan mengembangkan semua itu.
Pola pandang dan perilaku yang baru (new normal) harus tumbuh dan berkembang dari hati nurani tiap orang. Tanpa ini, peradaban baru tidak akan pernah menjadi kenyataan. Hati adalah pusat diri. Kematian hati nurani adalah akar dari segala kehancuran. Tanpa hati nurani, kesejahteraan umum tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Habitus dalam arti tertentu bisa diterjemahkan sebagai ‘kebiasaan’ (Inggris : habit) dan dimaknai sebagai “gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok” (Nota Pastoral Sidang KWI, November 2004).







