Kenormalan Baru untuk Keadaban Publik

ilustrasi

Harus diakui, wabah Covid-19 memang memberi keprihatinan dan mengakibatkan krisis, tapi sekaligus sesungguhnya memunculkan harapan. Bahwa kebangkitan acapkali bertolak dari krisis dan keterpurukan. Katastrofi itu ibarat ibu hamil yang mengandung anak kemajuan, ada harapan tersembunyi di baliknya. Harapan bukanlah sekadar optimisme yang berlandaskan pada ideologi yang seringkali mengklaim mampu memecahkan atau memberi jalan keluar segala masalah. Harapan justru dilandaskan pada keyakinan iman bahwa Tuhan mengarahkan umat manusia dan seluruh ciptaan untuk hidup dalam suatu tatanan yang memancarkan kebaikan.

Berharap berarti mengembangkan pemikiran, tindakan kreatif, serta cara hidup baru. Dalam konteks ini, sangat mendesak untuk dilaksanakan penataan kembali kehidupan bersama, sehingga dapat bersama-sama membentuk keadaban publik baru. Masa depan kehidupan bersama yang sehat, sejahtera, beradab memang memerlukan pembentukan keadaban publik yang berlaku bagi semua warga masyarakat. Krisis akibat Covid-19 saat ini, seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum untuk perubahan, untuk memperbaiki pola hidup dan kehidupan bersama dalam segala aspeknya. Yang terpenting, situasi ini menyadarkan kita akan kelemahan dan memberikan alasan kuat untuk bangkit dan memulai hidup dengan peradaban baru, keadaban publik.

B Herry-Priyono (Kompas, 31 Desember 2004), mengajak kita untuk menyadari panggilan untuk membaharui kehidupan dan membangun peradaban. Ambillah waktu sejenak mengamati lalu lintas kita. Lampu lalu lintas berwarna merah adalah tanda bahwa kita harus berhenti. Tapi tetap saja ada yang nyelonong, menerobos dan tetap melaju.

Pos terkait