Pemkot Kupang Gandeng IDAI Dan POGI Tangani Stunting

IMG 20241014 WA0056 1

Lusi juga mengingatkan para bapak untuk bekerja keras dan bertanggung jawab dalam mendukung keluarga sehingga tidak ada toleransi terhadap stunting di Oesapa dan harus bersama-sama berusaha menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak.

Dalam kesempatan itu, beliau menekankan pentingnya peran puskesmas sebagai pusat edukasi kesehatan. “Indikator kelurahan yang sehat adalah tidak adanya kasus stunting dan angka kunjungan pasien ke puskesmas di bawah 50%. Ini bukan pabrik, tetapi tempat di mana edukasi kesehatan berjalan terus,” jelasnya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Untuk memastikan keberhasilan program ini, Lusi meminta adanya laporan rutin bulanan dan tahunan. Ia menegaskan bahwa instansi pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, berkomitmen untuk mencegah stunting sebagai isu bersama.

Gerakan kemanusiaan untuk mencegah stunting ini merupakan inisiatif Penjabat Gubernur NTT, yang dijabarkan oleh Penjabat Wali Kota melalui kerja sama dengan IDAI, POGI, dan instansi terkait lainnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Kes, melaporkan bahwa kasus stunting di Kota Kupang telah menjadi perhatian utama sejak tahun 2021, di mana prevalensi stunting mencapai 26,1%. Dengan upaya bersama, pada tahun 2022 telah melakukan pendataan langsung bersama Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan dan data menunjukkan angka stunting menurun menjadi 21,5%. Hingga tahun 2024, angka tersebut berhasil diturunkan menjadi 18,4%.

Meskipun penurunan persentase menunjukkan kemajuan, Retnowati menekankan pentingnya melihat data riil. Dari total kasus yang ditangani sebanyak 4.594, kini angka tersebut berkurang menjadi 4.086.

Pos terkait