“Menariknya adalah misionaris-misionaris yang dikirim dari Asia ini datang dari Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dan India dengan mayoritas agama Hindu terbesar di dunia. Ini menjadi suatu fenomena yang harus di kaji,” ungkap ahli agama Islam ini.
Lebih lanjut Pater Philipus mengatakan, topik yang diangkat juga relevan dengan fenomena radikalisme yang dalam kebudayaan dikenal dengan etnosentrisme atau memuja kebudayaan sendiri. Begitu juga dengan radikalisme agama yang menganggap kebenaran agamanya saja yang paling absolut dan menganggap agama lain tidak benar.
Pandangan ini, kata Pater Philipus, bertentangan dengan pola pikir misionaris pada zaman Postmodern dan Post Truth yang harus terbuka untuk menerima kebenaran dari berbagai macam sumber kebenaran termasuk juga dalam ajaran agama.
“Ajaran atau pandangan dalam Konsili Vatikan kedua dimana Gereja maupun kami (SVD) dan Gereja lokal pada zaman ini telah meninggalkan moto lama dan kita mulai hidup dan membentuk suatu sikap baru dalam menjalankan misi di masa Postmodern dan Post Truth,” jelas Pater Philipus.
Sementara itu Pater Stanis T. Lazar, SVD yang merupakan Sekretaris Jenderal Misi SVD di Roma mengatakan, ASPAC MER diselenggarakan dengan tujuan misi di bidang pendidikan yang berkaitan dengan para pengajar yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Dalam era modern ini hal-hal yang kerap kali muncul adalah segala sesuatu harus dijelaskan secara ilmiah atau menggunakan rasionalitas. Ini adalah sebuah tantangan yang sedang dicoba untuk dijawab. Kemudian hal-hal ini mengarah kepada sebuah rasionalitas yang cukup radikal,” jelas dia.







