Bacaan I Pengkotbah 1:2; 2:21-23
Mazmur Tanggapan: Mzm 90: 3-4.5-6.12-13.14.17
Ref: “TUHAN, Engkaulah tempat perlindungan kami turun temurun”
Bacaan II Kolose 3:1-5.9-11
Injil Lukas 12: 13-21
“Demikianlah jadinya orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri , jika ia tidak kaya di hadapan ALLAH.”
Lukas 12:21
(Sic est qui sibi thesaurizat, et non est in DEUM dives)
Kawan ku….
Ini kita bicara soal harta benda. Sesuatu yang wajar. Manusia itu insan jasmani – ragawi. Agar dapat bertahan hidup dibutuhkan makan – minum, pakaian, dan tempat kediaman. Ini demi raga kita yang sehat nan bugar.
Dan tak hanya itu, kawan ku….
Agar hidup itu berjalan mudah, tak sekian menyusahkan, dibutuhkan pula berbagai sarana. Katakanlah fasilitas yang memadai. Kita butuh kendaraan, misalnya, atau peralatan ini dan itu. Kita butuh pula sejumlah uang….
Semuanya ini ada di titik wajar kan?
Bagaimana pun, kawan ku….
Persoalan seputar harta tetaplah menantang. Ia bisa menggoda dan menjurumuskan siapapun ke dalam lembah keterlekatan. Ini sebenarnya hendak berbicara tentang hati yang selalu cemas akan harta. Akan barang-barang duniawi.
Kawan ku….
Marilah kita jujur. Kenapa kah kita ini tak pernah merasa cukup? Mengenai harta sepertinya kita tak pernah tiba di titik puncak kepuasan. Katakan saja begini, praktisnya, kita ini:
-tetap saja merasa telanjang padahal pakaian kita sudah lumayan banyak;
-tetap saja merasa lapar walau sesungguhnya kita berkelimpahan di meja hidangan;
-tetap saja kita merasa ‘kantong kering’ padahal nyata-nyata tabungan kita itu gendut.
Jadinya, kita diumpamakan “bagai kapal berbendera kemiskinan, terbatas dan serba kurang, padahalnya sebenarnya muatannya itu berkelimpahan.”







