“Tujuan berdirinya koperasi ini adalah untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat, dan juga memutuskan mata rantai koperasi bodong yang memeras keringat masyarakat. Karena itu masyarakat harus pintar dalam menyimpan dan meminjam di jasa keuangan yang benar dan terpercaya, karena banyak jasa keuangan yang menjanjikan keuntungan tapi malah merugikan masyarakat,” ungkap Sason.
Menurut Sason, penyerahan dana daperma ini juga merupakan bukti cinta Kopdit Swasti Sari kepada anggotanya, sehingga anggota harus mencintai Swasti Sari sampai mati, bahwa apapun itu Swasti Sari adalah milik dari anggotanya.
“Cintailah Swasti Sari sampai mati karena koperasi ini milik kita sampai mati. Banyak kemudahan banyak cinta yang sudah diberikan dan memberikan kesejahteraan,” imbuhnya.
Lebih lanjut Sason mengatakan, di Swasi Sari tidak pernah ada pembobolan dana anggota. “Karyawan yang nakal kami langsung pecat, dan karyawan harusnya menjadi pelayan dan tetap menjaga pelayanan terhadap pemilik koperasi ini. Saya baru pulang dari Mataram, di sana koperasi ini sangat diterima dan mereka sangat antusias dengan kehadiran koperasi Swasti Sari dan kita harus lebih bangga menjadi pemiliknya,” katanya.
Sementara ahli waris, Antoneta Neno Lasi, dari (alm) Jibrael Imenuel Neno, menyampaikan kebanggaannya terhadap kepedulian dan cinta Kopdit Swasti Sari terhadap keluarga yang meninggal. Bahwa Kopdit Swasti Sari tetap menyimpan uang anggota meskipun anggota sudah meninggal dan dengan baik menyerahkan dana tersebut kepada ahli waris.







