Dia ke sana melakukan studi banding mengenai pengolahan keripik, keripik talas, kacang telur, dan berbagai produk lainnya.
Bekal dari sanalah modal baginya sehingga kini usahanya semakin maju. “Usaha saya lebih berkembang, karena Bank NTT membantu kami dalam diklat, studi banding, lalu packaging yang baik. Bahkan Bank NTT memfasilitasi pembeli untuk datang dan belanja di kami,” jelas Mama Yuliana.
Tanpa malu-malu, dia menambahkan “Bank NTT sudah banyak bantu kami. Kami sangat senang, terlalu enak, karena mereka cari kasi kami pembeli.”
Kini usahanya sudah semakin berkembang. Keripiknya diorder oleh banyak kalangan. Begitu pula aneka kue. “Kami selalu puas karena jualan kami pasti laku. Bermitra dengan Bank NTT ini bagus karena setiap kali kalau ada pameran, kami dilibatkan. Barang-barang yang kami bawa selalu habis. Pokoknya habis semua,” ungkapnya.
Namun jangan dikira keberhasilannya saat ini datang dari proses yang mudah. Tidak. Dia memulainya dari bawah. Beberapa tahun lalu, dia memiliki seorang anak yang kuliah di Yogyakarta. Sudah tiga tahun tidak pulang kampung. Karena memang mereka tidak punya uang. Dan, tiga tahun pula mereka tidak pernah bertemu muka.
“Kami baru bisa bertemu saat saya dibawa ke Malang. Dibantu Bank NTT, anak saya datang dari Yogya, dan kami bertemu. Saya senang sekali,” kenangnya.
Mama Yuliana adalah sosok yang tidak pernah lupa sejarah. Dia membukanya satu per satu sembari berharap ada orang lain yang juga sukses melebihinya. Saat ini anaknya sudah menamatkan kuliahnya. Jurusan yang diambilnya juga bagus, tentang perbankan.







