Ia sempat bekerja di Mataram, lalu mencoba kuliah di Universitas Nusa Nipa Maumere. Tapi hidup tak selalu memberi ruang untuk impian. Setelah menikah pada 2008, ia terpaksa berhenti kuliah dan pulang ke Waibao. Ia menjadi petani, menanam harapan di tanah sendiri.
Namun tekanan ekonomi membuatnya kembali menimbang langkah. Tahun 2011, ia merantau ke Kalimantan, bekerja di perusahaan pengeboran batu bara. Di sela pekerjaan, ia membangun usaha bengkel las kecil bernama Aran88—sebuah doa dalam bentuk nama: semoga hidup dan semangatnya tetap menyala seperti api las yang menghubungkan besi.
Tiga tahun merantau cukup bagi Hery untuk menabung dua hal: modal dan keyakinan. Ia pulang ke Larantuka. Ia mendirikan bengkel las, dan dari sana, perlahan menyusun mimpi: membangun tanah kelahirannya sendiri—Waibao.

Waibao Harus Berubah
Tahun 2021, Hery mengambil keputusan besar: mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Waibao. Bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena sebuah keyakinan.
“Sebelum masuk ke pemerintahan, saya selalu bermimpi bahwa Waibao ini harus berubah, dan perubahan itu harus terlahir dari ide saya,” ujarnya mantap.
Kemenangannya bukan sekadar hasil pemilihan, tapi simbol keberhasilan seorang anak desa yang berangkat dari nol—yang kehilangan keluarga karena tsunami, pernah gagal kuliah, dan jatuh bangun dalam hidup.
Sebagai kepala desa, Hery memulai dari hal-hal sederhana tapi berdampak: sistem air bersih, akses jalan ke kebun, taman baca, kebun hortikultura, demplot jagung, dan kemitraan dengan BUMDes untuk menyerap hasil pertanian warga.







