Perlahan, Waibao yang dulu tenang dan nyaris beku mulai bergerak. Tapi di balik semua upaya itu, hidup tak pernah sepenuhnya mulus.
Luka Yang Jadi Pelajaran
Tahun 2024 menjadi babak kelam. Hery bersama dua aparat desa dan satu warga lain terjerat kasus dugaan penganiayaan. Proses hukum berjalan, dan pada 14 April 2024, mereka dijatuhi hukuman empat bulan penjara.
Hery tidak membela diri.
“Saya salah. Saya betul-betul merasa bersalah. Ini pelajaran. Jalan Tuhan untuk saya menjadi pemimpin yang lebih bijak,” katanya tanpa ragu. Tak ada pembelaan. Yang ada hanya kejujuran dan kesediaan belajar dari kesalahan.
Empat bulan di balik jeruji menjadi masa perenungan. Ia memahami bahwa kepemimpinan bukan soal kuasa, melainkan soal nilai—tentang sabar, tentang menghormati, dan tentang menghindari kekerasan dalam bentuk apapun.
Dari Luka Tumbuh Tekad Baru
Kini, setelah menjalani masa hukuman, Hery kembali ke Waibao. Ia masih kepala desa. Masih Hery yang sama—bocah dari kebun, saksi tsunami, petani, perantau, dan kini pemimpin.
Waibao hari ini berbeda. Banyak yang telah berubah, namun Hery tahu: perubahan sejati tak hanya tampak pada infrastruktur, tapi terutama pada cara berpikir warganya.
“Saya harus melakukan sesuatu yang maksimal. Harus ada langkah maju,” katanya penuh keyakinan.
Dan mungkin, dari luka dan kejatuhan itulah, muncul sosok pemimpin yang lebih manusiawi. Lebih jujur. Lebih kuat. Di tangan Hery, Waibao bukan sekadar bergerak. Ia melangkah. Satu langkah lebih maju. (adi witin/sp pati hokor)







