
Di dunia yang terus bergerak cepat, di mana budaya dan nilai sering kali tergilas modernitas, masyarakat Banain mengajarkan satu hal penting: bahwa syukur bukan hanya soal ucapan, tapi tindakan. Dan di bawah langit Banain, syukur itu tak pernah diam. Ia hidup dalam darah kurban, dalam pelukan antar saudara, dan dalam rumah adat yang kembali berdiri kokoh.
Langit Banain menjadi saksi. Dan syukur itu akan terus mengalir. (Siu)







