Syukur yang Mengalir Lewat Tradisi
Tradisi ini dilakukan tanpa paksaan. Semua yang datang, tua, muda, anak-anak, bahkan yang sudah lama merantau hadir dengan kerelaan dan semangat persaudaraan. Masing-masing keluarga membawa hewan kurban sendiri, sebagai simbol persembahan pribadi sekaligus bagian dari kebersamaan.
Penyembelihan dilakukan dalam keheningan yang khusyuk. Tidak ada tangisan. Tidak ada hura-hura. Hanya kesadaran mendalam bahwa apa yang dikurbankan hari itu adalah bentuk nyata dari syukur mereka kepada kehidupan, kepada alam yang memberi makan, dan kepada leluhur yang tetap mereka hormati.
Setelah itu, daging dibagikan, dimasak bersama, dan disantap dalam prosesi makan adat di depan rumah adat. Bukan sekadar makan besar, tapi makan bersama yang menghidupkan kembali tali silaturahmi antaranggota suku.
Langit yang Menyaksikan Segalanya
Di sepanjang acara, langit Banain tetap biru. Angin bertiup pelan, seolah mengantar doa-doa yang terucap tanpa suara. Di sini, langit bukan hanya atap dunia. Ia adalah saksi bisu atas semua yang dilakukan manusia di bawahnya. Ia menyimpan cerita tentang keluarga yang terpisah namun kembali bersatu, tentang rumah yang rusak lalu dibangun kembali, dan tentang adat yang terus hidup di tengah dunia yang berubah.

“Kami tidak tahu sampai kapan tradisi ini bisa bertahan. Tapi selama langit Banain masih ada, selama tanah ini masih kami pijak, kami akan terus mengingat dari mana kami berasal, dan kepada siapa kami harus bersyukur,” kata Paulus Kolo, salah satu putra dari Rumah Adat Nai Tnopo.







