KEFAMENANU KABARNTT.ID — Saat mentari pagi menyentuh lembah dan bukit-bukit hijau di Desa Banain, suara gong adat perlahan mengalun, menggema hingga ke pelosok kampung. Di tanah yang dikelilingi pegunungan dan kebun-kebun rakyat itu, masyarakat berkumpul, mengenakan pakaian adat mereka yang terbaik. Hari itu bukan hari biasa. Di bawah langit Banain yang biru dan bersih, syukur dipanjatkan, dan ratusan hewan kurban disembelih dalam ritual adat yang sakral.
Ini adalah puncak dari peresmian Rumah Adat Nai Tnopo dan Nai Bansone, dua bangunan yang bukan hanya tempat tinggal simbolik, tapi juga lambang darah, leluhur, dan keberlanjutan kehidupan.
Saat Rumah Adat Kembali Berdiri
Bagi masyarakat Timor, rumah adat adalah jantung kehidupan. Ia bukan sekadar bangunan kayu dan atap tapi juga tempat bernaungnya roh-roh leluhur, kenangan masa kecil, serta pusat pertemuan keluarga besar yang tersebar di berbagai penjuru.

“Rumah kami dulu sudah bolong. Kami kumpul dana, gotong royong, dan akhirnya rumah ini berdiri kembali. Hari ini, semua saudara, dari anak kandung sampai anak mantu, kembali ke tanah ini, untuk berterima kasih kepada Tuhan, leluhur, dan alam,” tutur Gabriel Tlaan Kolo, tokoh adat dari rumah Nai Tnopo.

Dan rasa terima kasih itu diungkapkan dengan cara yang telah diwariskan selama belasan bahkan puluhan tahun lewat penyembelihan hewan kurban. Sapi dan babi dipersembahkan di depan mesbah, setelah para tokoh adat memanjatkan doa-doa khusus, memohon perlindungan, kesuburan, dan berkah bagi generasi mendatang.







