“Orang cerdas itu bisa melihat jalan keluar. Tapi yang membuat saya yakin, Melki itu bukan hanya cerdas, dia juga punya hati untuk mendengar. Itu yang membuat dia dekat dengan siapa saja, dan itu yang NTT butuhkan,” ucapnya dengan nada penuh harapan.
Cely juga menyinggung cara Melki melibatkan kaum muda, diaspora NTT, hingga mereka yang ada di luar negeri dalam upaya membangun daerah.
“Saya paham betul cara pikirnya. Karena sejak dulu, dia selalu melihat persoalan dengan jernih. Dia terbuka dengan masukan, dan selalu berusaha mencari solusi terbaik,” tambahnya.
Di akhir perbincangan, Cely menyampaikan satu pesan khusus untuk sahabat sebangkunya itu.
“Melki, tetaplah menjadi teman yang saya kenal di Seminari Kisol. Tetap jadi pribadi yang cerdas, rendah hati, mudah bergaul, dan murah senyum. Kami di NTT butuh pemimpin seperti itu,” ucapnya, seolah menitipkan doa.
Persahabatan yang dimulai dari bangku kayu di Seminari Kisol itu kini memasuki babak baru. Dua anak muda yang dulu saling mengisi di asrama kini sama-sama berjuang dari jalur berbeda demi satu tujuan, NTT yang lebih baik. (wili)







