
Duet Bupati-Wakil Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin-Drs. Aloysius Haleserens, bahkan meluangkan waktu mendatangi empat lokasi vaksinasi di Belu.
Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Egusem Pieter Tahun ‘tanam kaki’ untuk vaksinasi di TTS.
Di Sumba Timur, Bupati Christofel Praing, memberikan dukungan dan apresiasi atas kerja kemanusiaan ini.
Kehadiran beberapa buapti/wakil bupati secara langsung di tempat vaksinasi, dukungan bupati lain melalui tenaga kesehatan yang dikerahkan ke titik-titik vaksinasi jadi bukti kuat bahwa vaksinasi massal oleh Golkar adalah sungguh aksi kemanusiaan, bukan aksi politik. Kerja kemanusiaan, bukan kerja politik. Niat dan tujuannya murni membantu pemerintah dan masyarakat, bukan mengejar elektabilitas. Keterlibatan para pengurus Golkar di semua titik vaksinasi adalah pengorbanan total melancarkan aksi kemanusiaan ini, bukan terutama untuk ‘setor muka’ untuk mengejar popularitas.
Sampai dengan Minggu (12/9/2021) capaian vaksinasi di NTT baru pada angka 24,50 persen untuk dosis pertama, dan 13,04 persen untuk dosis kedua. Capaian ini jauh di bawah rata-rata nasional yang sudah mencapai 34,99 persen untuk dosis pertama dan 20,06 persen untuk dosis kedua, sebagaimana dikutip dari laman vaksin.kemkes.go.id.
Covid-19 masih ada di NTT. Itu fakta, bukan fiksi. Semua kabupaten masih menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Yang berbeda hanya level. Sejumlah kabupaten di level 3, yang lain di level 2. Tidak ada kabupaten yang sudah bebas Covid-19 atau zona hijau.
Itu artinya kewaspadaan mesti tetap ada. Siapa pun dia orangnya. Tidak ada yang jago dan tepuk dada manakala Covid-19 sudah menyerang. Protokol kesehatan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Memakai masker wajib hukumnya. Cuci tangan wajib hukumnya. Menghindari kerumunan juga wajib hukumnya. Menciptakan kerumunan itu tabuh. Vaksinasi juga wajib hukumnya bagi yang memenuhi syarat. Semua warga, semua elemen masyarakat, pejabat pemerintah perlu bersatu memerangi Covid-19.







