Marthen mengatakan, pembangunan tambak garam dgn teknologi geomembran sudah berlangsung di Sabu Raijua sejak tahun 2013 saat dirinya menjabat Bupati Sabu Raijua.
“Sayangnya tidak dilanjutkan oleh pemerintah yang lalu. Sejak dua tahun lalu ada dua perusahaan yang sedang membangun tambak garam dengam teknologi geomembran, tetapi masih skala kecil yaitu PT. Nataga Raihawu Industri (PT NRI) dan PT. Blue Ocean Salt (PT BOS). Harapan kita apa yang sedang dilakukan oleh KKP dan PT Garam dan yang sedang diperjuangkan oleh Gubernur Melki Laka Lena bisa direalisasikan secepatnya dan ditangani secara profesional,” tandas Marthen.
Marthen mengingatkan, potensi garam di NTT luar biasa, tidak hanya Sabu. Potensi yang luar biasa ini harus dimaksimalkan secara profesional. “Karena ketika presiden menutup kran impor, maka tidak menutup kemungkinan garam nasional akan mengalami kelangkaan besar jika tidak ditindaklanjuti dengan pembangunan tambak dengan skala besar,” kata Marthen.
Rencana pembangunan tambak garam skala besar di Sabu Raijua, kata Marthen, akan berdampak besar terhadap penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan ekonomi yang akan berpengaruh signifikan terhadap menurunnya angka pengangguran dan kemiskinan.
Demikian juga dengan adanya komoditas garam yang akan menjadi kebutuhan nasional, kata Marten, maka arus transportasi Jawa- Sabu atau daerah lain ke Sabu akan semakin terbuka sehingga barang masuk dan keluar dari Sabu akan semakin lancar.







