Masih menurut Teguh, di era pandemi Covid-19 ini ada fenomena menarik dimana kepercayaan publik pada media sosial turun secara signifikan, sementara kepercayaan publik kepada media siber pun mengalami peningkatan yang juga signifikan.
Dia menduga, kelihatannya masyarakat secara umum telah menyadari bahwa media sosial lebih lebih sering menampilkan isu-isu yang kontra produktif.
“Jejak-jejak kelam media sosial dapat dilihat dalam Pilkada 2017, Pilkada 2018, dan Pemilu 2019 yang lalu. Residunya masih ada,” kata mantan anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini.
Namun demikian, literasi pada perusahaan media siber anggota JMSI harus terus dilakukan agar tidak terpeleset melakukan hal-hal yang seharusnya dihindarkan di dunia siber. Teguh juga berharap MoU antara Mabes Polri dan Dewan Pers mengenai penanganan kasus pers dapat terus dijadikan rujukan oleh kedua lembaga.
Pada akhir pertemuan, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan kerjasama literasi yang melibatkan Polda dan pengurus JMSI di daerah. Hal ini akan dibahas dalam kesempatan berikutnya.
Perkenalkan Pengurus JMSI
Pada bagian awal pertemuan, Teguh Santosa melaporkan, JMSI telah menggelar Musyawarah Nasional I pada tanggal 29 Juni 2020.
Munas I yang diselenggarakan secara virtual dari Provinsi Riau itu dicatat Museum Rekor Indonesia-Dunia (MURI) sebagai forum tertinggi organisasi media yang digelar secara virtual pertama kali.
Menuju Munas I, JMSI juga menggelar tiga diskusi virtual dengan tiga dubes Indonesia di tiga negara, yakni China, Korea Selatan, dan Vietnam. Selanjutnya, Munas I juga dibuka secara virtual oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto.







