Apa yang sudah ada dalam kepercayaan dan perasaan manusia ini, seharusnya diperteguh lagi melalui iman. Dilihat dari sudut pandang kita sebagai manusia, kematian adalah suatu akhir dari hidup yang begitu menyentuh perasaan manusiawi kita. Tetapi di dalamnya unsur iman, yang memberikan suatu harapan yang pasti bagi kita, tentang hidup yang akan datang.
Prefasi Misa Arwah I, memberikan penegasan ini, ‘maka sebagai umat beriman yakinlah kami bahwa hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan’. Dan apa yang dikatakan oleh Gereja ini, sebenarnya bersumber pada ajaran Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Yesus telah turun dari surga; maka apa yang dikatakan oleh-Nya tentang surga berarti Ia berbicara tentang hidup yang dilihat dan dialami-Nya sendiri.
‘Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku, banyak tempat tinggal’ (bdk. Yoh. 14:1). Dan pada perikop yang lain Yesus mengatakan ‘Akulah Roti Hidup yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia kan hidup selama-lamanya dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia’ (bdk. Yoh. 6:51). Puncak dari seluruh ajaran Yesus tentang hidup yang akan datang, ditandai oleh kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga.
Oleh kematian-Nya, Kristus sungguh-sungguh menjadi satu dengan manusia. Oleh kebangkitan-Nya, Kristus telah mengalahkan maut. Dan oleh karena kenaikan-Nya ke surga, Kristus mau menunjukkan bahwa akhir dari perjalanan hidup manusia, bukan terletak di dunia melainkan di surga.







