Oleh John Naben, SVD
Seorang imam berumur 36 tahun, berdiri membelakangi tembok. Tanpa rasa takut dia berbalik menghadap regu tembak yang berdiri dihadapannya. Pada saat perintah tembak terdengar, berserulah imam itu: ‘Hiduplah, Kristus Raja’.
Kata akhir dan darahnya menyatakan dan membuktikan pengakuannya akan kemuliaan Kristus yang adalah Raja. Imam itu adalah P. Miguel Agustin Pro. Ia dihukum mati oleh Presiden Meksiko pada 23 November 1927. Selain seruannya di atas, ia dikenal karena secara berani menjalankan pelayanan imamatnya secara rahasia selama periode penganiayaan agama di Meksiko pada awal abad XX.
Ia merayakan Ekaristi, mendengarkan pengakuan dosa dan memberikan sakramen lainnya di pos-pos rahasia. Ia kemudian mati sambil mengakui bahwa Kristus adalah satu-satunya Raja di atas segala Raja; Raja atas segala bangsa dan umat manusia. Dia raja semesta alam.
Hari ini adalah Hari Minggu terakhir dari seluruh perjalanan tahun liturgi C. Dari minggu ke minggu, kita sudah merenungkan siapakah Kristus itu. Kita sudah merenungkan pribadi-Nya, ajaran-Nya, yang tidak dapat diselami seluruhnya oleh kemampuan manusiawi kita yang terbatas.
Dan pada minggu terakhir setiap tahun liturgi, kita merenungkan pribadi Kristus sebagai Raja. Memang, minggu terakhir tahun liturgi melambangkan kedatangan Kristus sebagai Raja pada akhir zaman. Pada hari ini, kita akan mendengarkan bacaan Injil dari Lukas 23:35-43.
Kita akan menerima pengajaran, bahwa pengertian kita tentang Yesus Kristus sebagai Raja bahkan Raja Semesta Alam, ternyata lain sama sekali jika dibandingkan dengan pengertian kita menurut pandangan duniawi tentang raja dan kerajaan dewasa ini. Dan penginjil Lukas menunjukkan kepada kita kekhususan peranan Yesus sebagai Raja dalam Kerajaan Allah Bapa-Nya.







