Sejak awal hidup-Nya, Yesus tampil sebagai seorang pribadi yang selalu menimbulkan tanda tanya. Pada hari kelahiran-Nya, Dia disebut Raja yang baru lahir oleh tiga majus dari Timur, padahal Ia lahir di kandang dan bukan di istana raja yang gegap gempita (lih. Mat. 2:1-12).
Pada waktu Dia mulai tampil di hadapan umum, seorang calon Rasul Natanael, bertanya: ‘Apakah ada sesuatu yang baik, datang dari Nazareth?’ (bdk. Yoh. 1:46) dan sesudah mengadakan mukjizat perbanyakan roti, orang banyak mau mengangkat-Nya menjadi raja, tetapi Yesus menyingkir dari kumpulan orang banyak itu. Yesus baru tampil dan menyatakan diri sebagai raja pada akhir hidup-Nya (bdk. Yoh. 6:14-15).
Di hadapan Pilatus, Yesus mengakui diri-Nya sebagai seorang Raja, tetapi kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (bdk. Yoh. 18:36). Dalam keadaan terhina, Yesus tampil sebagai seorang raja, dan justeru karena itu, Pilatus jadi bingung.
Penulis dan penyair Libanon, Khalil Gibran, menulis satu buku dengan judul: ‘Anak Manusia’. Dalam buku tersebut dilukiskan pertemuan antara Yesus dan orang Yahudi pada masa itu. Mengenai Yesus di hadapan Pilatus, Gibran menulis sebagai berikut:
‘Mengenai Yesus, saya belum pernah bertemu dengan orang itu, sebelum Ia didahapkan kepadaku sebagai seorang penjahat, sebagai musuh bangsa-Nya dan musuh Roma. Ia di bawah ke ruang pengadilan dengan tangan terikat.
Saya duduk di atas tahta. Ia berjalan ke hadapanku dengan langkah panjang dan tegas. Saya tidak dapat mengungkapkan perasaan apa yang meliputi saya pada saat itu.







