Maka kegembiraan tobat adalah perayaan perjumpaan kembali antar manusia, tetapi serentak itu pula adalah perjumpaan kembali Tuhan dengan manusia. Pesta Pertobatan yang diwarnai rangkulan dan ciuman memberi pesan bahwa Tuhan tidak seperti anak sulung yang masi ingat dan suka menghitung-hitung salah dan dosa manusia. Perayaan itu juga menjadi meterai pengukuhan bahwa manusia telah diterima kembali oleh Bapa.
Saudara-saudara, kita semua tentu pernah menjadi orang hilang. Tidak saja anak yang hilang karena lebih tergiur dengan kenikmatan dunia,tetapi bisa juga seorang suami kehilangan cintanya karena pengkhianatan istri dan seorang istri kehilangan kesetiaan suaminya karena pertengkaran dalam keluarga, atau juga, seorang tetangga hilang dari kebersamaan dengan tetangga lainnya karena dendam yang masih membara. Lalu, ada yang hilang dari persekutuan gereja. Kita semua jatuh bangun dalam lumpur dosa selama masa puasa. Tentu kita tidak menyerah dengan keadaan. Kita tolak tunduk pada kerapuhan manusiawi kita. Maka, teladan si bungsu memacu kita untuk segera sadar dan bangkit untuk kembali kepada Sang Bapa. Dia yang Maha rahim itu siap memeluk dan mencium kita. Pelukan itu adalah doa agar kemesraan itu jangan cepat berlalu. Sedangkn ciuman adalah ungkapan kasih Allah kepada kita semua yang kembali kepada-Nya. Semoga hari ini menjadi sukacita tobat bagi kita semua. Amin.







