Kotbah Minggu Prapaskah IV : Sakramen Bola Dan Sukacita Pertobatan

721352324963e860e5345eddfa83321c58fd41c5e688b9bf553406c08f736d46.0

Selebrasi pekik sorai orang Lomblen, oleh Dion DB. Putra, wartawan kenamaan Pos Kupang, pada Catatan Bola menulis dengan judul:”Dulang Ikan pun ikut Bernyanyi.”Ya, ekspresi mama-mama di pasar TPI Lewoleba bikin beta merinding serentak terharu bangga. Begitu Cesar Making cetak gol telat kemenangan ke gawang Perse Ende 2-1 pada babak kedua ekstra time, TPI Lewoleba meledak dalam sukacita.

Seorang ema cantik pukul dulang ikan sekencang-kencangnya. Pantat ember juga jadi sasaran. Ada pula yang lari berjingkrak-jingkrak. Ekspresi spontan. Natur. Apa adanya. Membuktikan sekali lagi betapa sepak bola itu mempesona. Bola selalu melahirkan perayaan kemanusiaan.”

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Euforia orang Lembata tentu bukan saja merupakan selebrasi kemenangan tetapi juga adalah, deklarasi penghapusan kesalahan wasit yang tidak meniup pluit saat hand ball di kotak penalty. Kesalahan itu dianggap tidak pernah ada karena sudah tenggelam dalam perayaan kemanusiaan itu. Inilah yang tentu saja dimaksudkan oleh temanku Tony Kleden, sang wartawan senior itu sebagai :”Sakramen Bola.”

Lalu saudara-saudara, apa relevansinya dengan injil hari ini? Injil yang dimulai oleh protes orang farisi dan ahli-ahli Taurat, tatkala melihat pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang mendengarkan ajaran Yesus. Mereka protes karena Yesus menerima orang berdosa dan bahkan makan bersama pemungut cukai. Begitu mendengar protes mereka, Yesus pun mengajar mereka dengan perumpamaan tentang anak hilang. Kisah ini sudah sangat populer. Nyaris kita semua hafal cerita ini. “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Suatu waktu anak bungsu minta kepada ayahnya untuk membagi bagian harta milik mereka yang menjadi haknya. Ayahnya tidak keberatan. Ia membagi warisannya untuk kedua putranya. Begitu mendapat bagiannya, si bungsu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di negeri yang asing itu, dia memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya.

Pos terkait