Renungan Harian Minggu, 10 Agusrua 2025 (Hari Raya Sta. Perawan Maria Diangkat ke Surga)

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Bacaan I Wahyu 11:19a; 12:1. 3-6a.10ab
Mazmur Tanggapan: Mzm 45: 10c-12.16
Ref: “Di sebelah kananmu berdiri permaisuri, berpakaian emas dari Ofir”
Bacaan II 1Korintus 15: 20-26

Injil Lukas 1: 39 – 56
“Sebab IA telah memperhatikan kerendahan hambaNYA”
Lukas 1:48
(Quia respexit humilitatem ancillae suae)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kawan ku…
Kuyakin sungguh! Maria, perawan sunyi di Nazaret terpencil tak jalani hari-harinya dalam sandiwara ‘kekecilan dan kesederhanaannya.’ Dan dengan demikian ia berharap bakal dilirik TUHAN untuk dimuliakan. Tidak!

Kawan ku….
Bunda Maria, sungguh adalah perempuan ‘kesahajaan dan kerendahan hati.’ Ia gadis Israel, yang tentu hiasi kesehariannya dalam doa penuh harapan: Semoga segera tibalah kedatangan Al Masih, Messias Terjanji. Dan, ia lah yang terpilih ALLAH menjadi Ibunda Sang Penebus.

Kawan ku….
Hari ini kita rayakan Pengangkatan St Perawan Maria, Bunda ALLAH dan Bunda Gereja (kita) ke Surga.
“Akhirnya, sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan Maria Tak Tercela, yang senantiasa luput terhadap semua noda dosa asal, diangkat ke kemuliaan surgawi dengan badan dan jiwannya.”
Begitulah tegasan Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus – 1 November 1950. Dan digemakan lagi dalam Konsili Vatikan II – Lumen Gentium art 68.

Kawan ku….
Dalam keseharian, Maria adalah Bunda pengharapan dan penolong. Ia adalah Bunda yang menyertai Gereja. Berziarah bersama kita semua, dalam doa-doanya.

Kawan ku…
Di hari kita merayakan pengangkatannya ke surga ini, kita tetap yakin akan keutamaannya bagi kita:
Sebagaimana ia berbisik pada Yesus, anaknya “mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3), bagi kita, Maria tetap menjadi ibu penuh kepedulian dalam apapun situasi yang kita alami. Saat kita nyaris kehilangan harapan dalam hidup ini.
Dan, bagi kita, Maria pun tetap membawa dalam dirinya panggilan keibuan gerejani saat ia mendengar kata-kata itu, “Ibu, inilah anakmu…” (Yoh 19:26).

Pos terkait